Korban Kerusuhan Usai Pemilu Bangladesh Bertambah

CNN Indonesia | Senin, 31/12/2018 08:46 WIB
Korban Kerusuhan Usai Pemilu Bangladesh Bertambah Bangladesh membara dipicu dugaan kecurangan dalam pemilihan umum. Korban tewas dalam kerusuhan kini bertambah menjadi 17 orang. (AFP PHOTO / Munir UZ ZAMAN)
Jakarta, CNN Indonesia -- Korban tewas dalam kerusuhan selepas pemilihan umum di Bangladesh bertambah menjadi 17 orang, dari semula empat warga. Bentrokan terjadi antara pendukung dua partai, yakni Liga Awami dan Partai Nasional Bangladesh (BNP) karena dugaan kecurangan dalam pemungutan suara.

Seperti dilansir AFP, Senin (31/12), pemerintah Bangladesh mengirim 600 ribu pasukan ke seluruh negeri guna mengantisipasi bentrokan di sejumlah daerah. Pendukung BNP yang merupakan oposisi menuding Partai Liga Awami besutan Perdana Menteri Sheikh Hasina (71) memanipulasi perolehan suara yang digelar Minggu pekan lalu.

Dalam penghitungan sementara, Liga Awami berhasil merebut 191 kursi di dewan perwakilan, sedangkan BNP dan koalisinya, Front Persatuan Nasional cuma meraih lima kursi. Tidak terima dengan hasil itu, BNP menuntut pemungutan suara diulang.
"Kami menuntut pemilu ulang yang digelar pemerintahan yang netral secepatnya," kata tokoh oposisi Bangladesh, Kamal Hossain.


Jika pemilu tidak diulang, maka kemungkinan besar Hasina bakal melanjutkan kepemimpinannya yang ketiga, setelah berkuasa sejak 2009. Dia dianggap berprestasi menggenjot pertumbuhan ekonomi di negara tergolong miskin itu, dan juga berbaik hati menampung etnis Rohingya di perbatasan, karena dipersekusi oleh aparat dan kelompok radikal di Myanmar.

Di sisi lain, Hasina dituding otoriter karena mengekang kebebasan berpendapat dan menghambat kelompok opisisi. Dia dituding sengaja memenjarakan Ketua Umum BNP, Khaleda Zia selama 17 tahun dalam kasus dugaan korupsi buat menghalangi gerakan pesaing politiknya.

Salah satu cara Hasina yang diduga ditujukan buat menghambat kelompok oposisi adalah dengan mengesahkan undang-undang keamanan digital. Hal itu dianggap bisa menjadi pasal karet untuk menjerat lawan politik Hasina, dan juga dikhawatirkan mengekang kebebasan berpendapat dan pers.
Menurut lembaga aktivis Odhikar, penculikan terhadap para pegiat dan tokoh oposisi di Bangladesh oleh aparat keamanan juga marak. Pada Septermber lalu saja tercatat ada 30 orang yang dijemput paksa dan ditahan aparat setempat tanpa alasan jelas. Padahal delapan bulan sebelumnya sudah ada 28 orang yang diciduk.

Salah satu yang ditangkap adalah juru foto kawakan Bangladesh, Shahidul Alam selepas diwawancara oleh stasiun televisi Al Jazeera soal situasi negaranya. Dia mengatakan pemerintah Bangladesh menggunakan segala cara untuk merawat kekuasaan, dan karena itu dia dibui selama beberapa bulan, dan bebas pada 20 November lalu. (ayp/ayp)