Ogah ke Myanmar, Ratusan Rohingya Unjuk Rasa di Bangladesh

CNN Indonesia | Kamis, 15/11/2018 18:23 WIB
Ogah ke Myanmar, Ratusan Rohingya Unjuk Rasa di Bangladesh Ilustrasi pengungsi Rohingya. (Reuters/Mohammad Ponir Hossain)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ratusan pengungsi Rohingya di Bangladesh menggelar unjuk rasa untuk menolak repatriasi ke Myanmar karena kondisi di negara pimpinan Aung San Suu Kyi itu belum kondusif.

Beberapa pengunjuk rasa mengangkat tulisan yang mengatakan "kami menginginkan keadilan" dan "kami tidak akan pernah kembali ke Myanmar tanpa kewarganegaraan kami."

"Tidak, tidak. Kami tidak akan pergi!" teriak para demonstran sebagaimana dikutip Reuters, Kamis (15/11).
Hingga kini, pemerintah Bangladesh menolak untuk berkomentar.


Proses pemulangan ini sendiri sudah disepakati oleh Bangladesh dan Myanmar pada Oktober lalu untuk mengatasi gelombang pengungsi Rohingya yang kabur dari kekerasan militer di negara bagian Rakhine.

Menteri Sosial Myanmar, Win Myat Aye, mengatakan bahwa pihaknya sudah mempersiapkan logistik untuk membawa 2.251 orang ke tempat transit dengan perahu pada Kamis.
Sementara itu, 2.095 orang Rohingya lainnya akan menyusul dalam kloter dua yang berangkat melalui jalur darat.

Namun, Komisi Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi (UNHCR) keberatan dengan rencana repatriasi itu. Mereka menganggap program itu dijalankan secara tergesa-gesa dan belum ada jaminan Rohingya tak lagi dipersekusi jika kembali.

Pada Selasa (13/11), Komisioner Tinggi Hak Asasi Manusia PBB, Michelle Bachelet, pun meminta Bangladesh untuk menghentikan rencana repatriasi mengingat kehidupan Rohingya di Myanmar masih dalam bahaya.
Bangladesh juga menyatakan bahwa negara mereka tidak akan memaksa kaum Rohingya untuk kembali ke Myanmar.

"Pengembalian akan bersifat sukarela. Tidak ada yang akan dipaksa untuk kembali," kata Abul Kalam, Komisioner Repatriasi, Bantuan, dan Pengungsi Bangladesh.

Menurut Amnesty International, lebih dari 750 ribu pengungsi Rohingya yang terdiri dari anak-anak dan perempuan melarikan diri dari Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh pada Agustus 2017.

Mereka kabur dari Myanmar untuk melarikan diri dari diskriminasi, pembunuhan, hingga pemerkosaan oleh militer di negara bagian Rakhine. (cin/has)