Dirayu Netanyahu, Honduras Segera Buka Kedubes di Yerusalem

CNN Indonesia | Rabu, 02/01/2019 12:05 WIB
Dirayu Netanyahu, Honduras Segera Buka Kedubes di Yerusalem Presiden Honduras, Juan Orlando Hernandez menyatakan berminat membuka kedutaan besar mereka di Yerusalem beralasan peningkatan hubungan dengan Israel. (REUTERS/Jorge Cabrera)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu merayu Honduras supaya segera membuka kedutaan besar mereka di Yerusalem. Presiden Honduras, Juan Orlando Hernandez pun terbuai dan menyatakan mereka segera melaksanakan rencana itu, yang dikhawatirkan akan semakin menghambat proses perundingan damai di Timur Tengah.

Rayuan Netanyahu kepada Hernandez disampaikan dalam lawatan luar negeri di Brasil, pada Selasa (1/1) kemarin. Mereka sempat melakukan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Amerikas Serikat, Mike Pompeo.

Menurut pernyataan kantor perdana menteri Israel, ketiganya membahas rencana lanjutan untuk saling membuka perwakilan diplomatik di Yerusalem dan Ibu Kota Tegucigalpa. Selain jalinan hubungan bilateral, Honduras berharap Israel mau bekerja sama dalam sejumlah hal lain.
"Kami sepakat untuk menjajaki sejumlah rencana aksi, termasuk menindaklanjuti proses untuk membuka kedutaan di Tegucigalpa dan Yerusalem," demikian bunyi pernyataan trilateral antara Amerika Serikat, Honduras dan Israel, seperti dilansir The Times of Israel, Rabu (2/1).


Selama ini perwakilan diplomatik Israel di Honduras hanya berupa konsulat. Honduras berharap mereka bisa dibagi ilmu oleh Negeri Zionis soal keamanan siber, teknologi pengairan dan pertanian, serta penegakan hukum.

Honduras juga semakin merapat kepada AS dalam hal hubungan politik. Sebab, imigran dari negara itu menjadi salah satu yang terbesar yang mendatangi AS. Penyebabnya adalah tingginya tingkat kekerasan dan kemiskinan di Honduras. Bahkan AS menjanjikan bantuan modal miliaran dolar supaya negara itu bisa membangun perekonomian dan menekan angka pendatang gelap.

Honduras dan Guatemala menjadi negara di kawasan Amerika Tengah yang mengklaim Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel. Sedangkan Presiden Brasil, Jair Bolsonaro menyatakan juga berniat memindahkan kedutaan besar mereka ke kota suci itu. Paraguay sebelumnya sempat memindahkan kedutaan besar mereka ke Yerusalem, tetapi dibatalkan dan kembali ke Tel Aviv.
Honduras adalah salah satu negara yang menentang resolusi Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang isinya mengecam klaim Presiden AS Donald Trump menyatakan Yerusalem adalah Ibu Kota Israel pada Desember 2017. Selain Honduras, sejumlah negara yakni Guatemala, Kepulauan Marshal, Micronesia, Nauru, Palau, Togo dan Israel turut menolak keputusan PBB itu.

Di kawasan Pasifik, Australia menyatakan mendukung klaim Yerusalem Timur sebagai ibu kota Israel. Perdana Menteri Australia, Scott Morrison menyatakan masih menimbang-nimbang kapan mereka akan membuka kedutaan di Israel. Negara lain yang berniat membuka kedutaan besar di Yerusalem adalah Moldova.

Israel mengklaim seluruh Yerusalem yang mereka caplok usai perang pada 1967 adalah ibu kota mereka. Namun, Palestina menyatakan Yerusalem Timur sebagai ibu kota masa depan mereka.

Sejumlah besar negara menyatakan status Yerusalem hanya boleh ditentukan dalam negosiasi antara Israel dan Palestina. PBB menyatakan Yerusalem hingga saat ini tetap berada dalam kondisi status quo.
Klaim itu menjadi sandungan bagi proses perdamaian antara Israel dan Palestina. Sebab opsi dua negara menjadi semakin sulit dibahas di atas meja perundingan.

Negara-negara Arab dan mayoritas Muslim di berbagai dunia juga mulai bersikap keras dengan mereka yang mengklaim Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Sejumlah gerakan boikot mulai disuarakan. (ayp/ayp)