RI Sebut Video WNI Sandera Abu Sayyaf Disebar Malaysia

CNN Indonesia | Rabu, 09/01/2019 20:36 WIB
RI Sebut Video WNI Sandera Abu Sayyaf Disebar Malaysia Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Kemenlu RI, Lalu Iqbal Muhammad. (CNN Indonesia/Riva Dessthania Suastha)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Luar Negeri RI membenarkan rekaman seorang sandera kelompok bersenjata Abu Sayyaf di Filipina yang meminta pertolongan merupakan warga negara Indonesia. Namun, mereka menyatakan rekaman itu justru terlebih dulu ramai tersebar di Malaysia.

"Betul itu salah satu sandera WNI. Video semacam ini sering keluar setiap beberapa sandera yang mereka (Abu Sayyaf) culik bebas. Biasanya (video) dikirim ke pemerintah atau kerabat untuk menekan psikologis keluarga supaya segera membayar tebusan," kata Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Kemlu RI, Lalu Iqbal Muhammad, di kantornya di Jakarta, Rabu (9/1).

Iqbal mengatakan juga menerima video itu. Menurut dia, rekaman itu justru disebar oleh kepolisian Malaysia.
"Biasanya video semacam ini tidak kami sebarkan ke media karena itu justru yang diinginkan si penculik, menebarkan tekanan psikologis kepada pemerintah dan keluarga," kata Iqbal.


"Video kemarin itu pertama didapat keluarga, lalu keluarga kirim ke pemilik kapal di Malaysia, pemilik kapal kasih video ke polisi, dan polisi Malaysia yang menyebarkannya," lanjut Iqbal.

Iqbal enggan berspekulasi mengapa rekaman sandera WNI itu justru diberikan media massa.

Rekaman itu memperlihatkan seorang WNI sandera Abu Sayyaf yang diketahui bernama Samsul Sangumin memohon-mohon meminta pertolongan.

Dilansir dari The Star, Samsul terlihat menangis dan memohon bantuan dari bawah lubang tanah. Dalam video, dia terlihat mengenakan celana pendek berwarna merah muda tanpa pakaian, didampingi dua orang yang terlihat sebagai penyandera sambil menodongkan senjata ke arahnya.
"Tolong aku bos, bantu aku bos, tolong," kata Samsul dalam rekaman video itu.

Berdasarkan sumber dari Filipina, video itu dikirim oleh Abu Sayyaf kepada pemilik kapal berbendera Malaysia demi meminta tebusan.

Samsul diculik bersama seorang WNI lainnya, Usman Yunus di perairan Pulau Gaya, Semporna, Sabah, pada 11 September 2018. Usman berhasil kabur dari tawanan pada 7 Desember 2018.

Iqbal mengatakan hingga kini masih ada tiga WNI yang ditawan kelompok Abu Sayyaf di selatan Filipina. Pemerintah, kata dia, terus berupaya melakukan proses pembebasan.
"Upaya pembebasan terus kami lakukan. Sesuatu masih berjalan. Upaya pembebasan sandera itu kan memang proses intelijen, jadi memang untuk tidak dibuka ke umum. Itu yang kita jaga," kata Iqbal. (rds/ayp)