Wali Kota Gdansk yang Ditikam Meninggal

CNN Indonesia | Selasa, 15/01/2019 10:29 WIB
Wali Kota Gdansk yang Ditikam Meninggal Ilustrasi penusukan. (Istockphoto/aradaphotography)
Jakarta, CNN Indonesia -- Wali Kota Gdansk, Polandia, Pawel Adamowicz (53) meninggal pada Senin (14/1) kemarin setelah kritis usai ditikam dalam acara penggalangan dana. Dia mengembuskan napas terakhir saat menjalani operasi selama lima jam.

Seperti dilansir CNN, Selasa (15/1), menurut dokter bedah yang menangani, Adamowicz mengalami luka serius di bagian perut dan jantungnya. Sejumlah kalangan menyampaikan ucapan bela sungkawa terkait tragedi itu.

Sebelum Adamowicz meninggal, sejumlah pesan berantai di media sosial beredar untuk membantu menyumbangkan darah tipe O dengan RhD negatif. Sejumlah warga Gdansk pun mengantre ingin menyumbangkan darah mereka. Namun, nyawa Adamowicz tidak terselamatkan.
Pelaku yang merupakan seorang lelaki berusia 27 tahun ditangkap. Dia adalah mantan napi kasus perampokan bank.


Adamowicz dikenal sebagai tokoh yang menentang kelompok sayap kanan. Dia dikenal dekat dengan kelompok minoritas seperti kalangan pendatang, LGBT, dan lainnya.

Adamowicz juga dikenal akrab dengan kelompok Yahudi, dan menentang sentimen anti-semit.
Insiden penusukan itu terjadi pada Minggu (13/1) malam waktu setempat. Saat itu Adamowicz sedang menghadiri acara penggalangan dana untuk menyediakan peralatan medis di sejumlah rumah sakit. Saat itulah pelaku naik ke panggung dan menikamnya beberapa kali dengan pisau. Pelaku pun ditangkap di lokasi kejadian.

Setelah menikam Adamowicz dengan pisau beberapa kali, pelaku menyebut nama dan mengatakan dia merupakan korban salah tangkap dan dipenjara di bawah pemerintahan sebelumnya.

Seorang saksi yang diwawancara stasiun televisi Polandia, TVN, pelaku tampak senang setelah berhasil menikam Adamowicz.
Juru bicara Kepolisian Gdansk, Joanna Kowalik-Kosinska, menyatakan pelaku dapat menembus akses hingga ke atas podium berbekal tanda pengenal pers.

"Kami tahu dia (pelaku) menggunakan pengenal dengan tulisan pers. Sekarang kami masih menyelidiki lebih lanjut bagaimana dia mendapatkan tanda pengenal tersebut, apakah dia benar-benar wartawan atau tidak," kata Kosinska. (ayp/ayp)