Trump Sebut Maduro Brutal, Dukung Guaido di Pidato Kenegaraan

CNN Indonesia | Rabu, 06/02/2019 11:46 WIB
Trump Sebut Maduro Brutal, Dukung Guaido di Pidato Kenegaraan Presiden Donald Trump menyebut rezim Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, brutal lantaran memicu krisis berkepanjangan di negara Amerika Selatan tersebut. (Reuters/Leah Millis)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Donald Trump kembali menyebut rezim Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, brutal lantaran memicu krisis politik dan ekonomi berkepanjangan di negara Amerika Selatan tersebut.

Trump mengutarkan pernyataan itu dalam pidato kenegaraannya di Gedung Capitol pada Selasa (5/2), sepekan setelah pemerintahan AS kembali dibuka pasca-penutupan atau governement shutdown selama satu bulan lebih.

"Kami berdiri bersama rakyat Venezuela yang sedang berjuang secara mulia mengupayakan kebebasan-dan kami mengutuk kebrutalan rezim Maduro, di mana kebijakan sosialisnya mengubah negara itu dari yang merupakan terkaya di Amerika Selatan menjadi negara sangat miskin dan putus asa," ucap Trump.
Dia juga membandingkan AS sebagai negara penganut demokrasi dan kebebasan, dengan Venezuela di bawah kontrol Maduro yang menjadi negara sosialis.


Trump menegaskan AS selamanya tidak akan pernah berubah menjadi negara sosialis karena "Amerika didirikan dengan nilai kebebasan dan kemerdekaan, bukan atas paksaan, dominasi, dan kontrol pemerintah."

"Kita dilahirkan bebas dan kita akan tetap bebas. Malam ini, kami memperbarui tekad kami bahwa Amerika tidak akan pernah menjadi negara sosialis," tuturnya.
Dalam kesempatan itu, Trump juga kembali menegaskan bahwa Maduro sudah bukan lagi presiden Venezuela yang sah.

Amerika, katanya, telah secara resmi mengakui Presiden Majelis Nasional Venezuela, Juan Guaido, sebagai pengganti sementara Maduro.

"Dua pekan lalu, AS secara resmi mengakui pemerintahan baru Venezuela yang sah dan presiden interimnya, Juan Guaido," kata Trump seperti dikutip CNN.

[Gambas:Video CNN]

Selain mempertimbangkan opsi militer, Gedung Putih juga memberikan berbagai tekanan kepada Maduro untuk mundur, termasuk menerapkan embargo terhadap perusahaan minyak utama Venezuela, PDVSA, pekan lalu.

Sanksi itu dijatuhkan AS dengan harapan bisa memblokir sumber pemasukan Venezuela yang selama ini menopang rezim Maduro. (rds/has)