Meneropong Peran RI di Dunia Lewat Debat Pilpres

CNN Indonesia | Sabtu, 30/03/2019 14:11 WIB
Meneropong Peran RI di Dunia Lewat Debat Pilpres Dari serentetan isu, peran Indonesia di kancah internasional diharapkan dapat dibahas mendalam dalam debat keempat Pilpres 2019 pada Sabtu (30/3). (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejak pondasi negara dibangun pasca-kemerdekaan, peran Indonesia di kancah internasional selalu menjadi salah satu prioritas, terutama terkait perdamaian dunia.

Debat Pilpres pada Sabtu (30/3) pun diharapkan dapat menjadi teropong kebijakan para kandidat untuk memajukan peran negara di dunia global dalam lima tahun ke depan jika terpilih kelak.

Dalam penjabaran visi-misinya, kedua pasangan calon presiden memang sudah memasukkan unsur politik luar negeri. Pasangan calon nomor urut 01, Joko Widodo-Ma'ruf Amin, misalnya, salah satu poin misinya berbunyi, "Melanjutkan haluan politik luar negeri yang bebas aktif."


Dalam penjabaran misi paslon nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, juga tertera pernyataan, "Mengembalikan peran aktif dan kepemimpinan Indonesia di panggung internasional."
Namun, pengamat hubungan internasional Universitas Indonesia, Beginda Pakpahan, menganggap pengoptimalan peran Indonesia di forum internasional merupakan tantangan tersendiri dalam perkembangan dunia belakangan ini.

"Sejak dulu, Indonesia selalu ingin mengedepankan peran dalam membawa perdamaian dunia. Salah satu tantangan yang ingin saya lihat jawabannya dalam debat adalah bagaimana mengoptimalkan peranan Indonesia di forum organisasi regional maupun internasional," ujar Beginda kepada CNNIndonesia.com.

Melanjutkan pernyataannya, Beginda berkata, "Tantangannya adalah bagaimana memaksimalkan peranan dalam menjaga perdamaian dan menciptakan keamanan dunia."

Taring Indonesia sebagai anggota DK PBB

Menurut Beginda, isu ini menjadi sangat penting mengingat posisi Indonesia yang sekarang menjadi salah satu negara anggota tidak tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Tantangan besar dalam memperjuangkan perdamaian dunia melalui DK PBB, menurut Beginda, adalah sistem veto yang diterapkan organisasi tersebut.

Lima negara anggota tetap DK PBB, yaitu China, Amerika Serikat, Prancis, Rusia, dan Inggris, memang memiliki hak veto. Dengan hak tersebut, mereka bisa menggagalkan resolusi yang digagas negara anggota tidak tetap.
RI di Mata Dunia, Isu Besar yang Diharapkan Jadi Pokok DebatIlustrasi DK PBB. (Dok. Kemenlu RI)
Dampak nyata hak veto tersebut dapat dilihat pada awal tahun ini, ketika usulan resolusi yang diajukan Indonesia untuk mengecam sikap Israel atas Palestina gagal diadopsi karena diveto AS.

"Diplomasi itu kan bagian dari proses, bagaimana berupaya melihat perspektif lainnya sehingga dapat berdiskusi dan mendekati semua pihak untuk mencapai konsensus. Itu tantangannya," tutur Beginda.

Senada dengan Beginda, pengamat hubungan internasional Universitas Padjadjaran, Teuku Rezasyah, juga menganggap peran Indonesia di dunia internasional seharusnya dibahas mendalam dalam debat kali ini.

"Sesuai undang-undang dasar, poin pentingnya adalah bagaimana Indonesia memelihara perdamaian dunia, mencegah perang, apalagi dengan kedudukan Indonesia sekarang sebagai anggota tidak tetap PBB," ucap Teuku.

Teuku juga menarik contoh isu perdamaian Palestina dan Israel dan upaya Indonesia di DK PBB yang terjegal veto AS.

"Harus terlihat rencana strategis, harus tahu bagaimana cara melawan veto AS di DK PBB dan Majelis Umum. Harus mampu pula memperlihatkan betapa Indonesia harus siap di barisan depan, menggalang solidaritas Gerakan Non Blok, Organisasi Kerja Sama Islam, sampai ASEAN," kata Teuku.

Peran maksimal di tingkat regional

Teuku pun mengatakan bahwa para kandidat juga harus dapat menonjolkan strategi politik luar negeri untuk isu-isu regional, seperti dugaan persekusi Rohingya di Rakhine, Myanmar, yang bisa diangkat dalam forum ASEAN.

"Harus ada gagasan kuat dan nyata dari kedua capres bagaimana bekerja sesuai dengan Piagam ASEAN yang sepakat untuk tidak mencampuri urusan dalam negeri dari negara anggota. Itu suatu tantangan," katanya.
RI di Mata Dunia, Isu Besar yang Diharapkan Jadi Pokok DebatIsu persekusi Rohingya di Myanmar dianggap akan mendapatkan sorotan besar dalam debat. (Reuters/Mohammad Ponir Hossain)
Dalam hal ini, Beginda menganggap Indonesia juga harus mengambil andil sebagai pembawa sinergi antara organisasi kawasan dengan internasional.

"Dengan berbagai keaktifan itu, harus ditunjukkan pula bagaimana caranya berperan secara optimal untuk melakukan sinergi peran di DK PBB dengan forum-forum lain," katanya.

Indonesia di tengah poros Timur dan Barat

Di samping itu, Beginda juga mengatakan bahwa kedua capres harus dapat menjawab tantangan-tantangan perubahan konstelasi geopolitik yang berkembang belakangan ini.

"Pertama, Indonesia dan negara Asia Tenggara lainnya ada di tengah-tengah perubahan pusat pertumbuhan ekonomi yang awalnya di Barat, sekarang mulai ke Timur," ucap Beginda.

"Ini tentu berdampak pada perubahan geopolitik, persaingan pengaruh negara-negara besar di Asia Tenggara di kawasan Indo-Pasifik. Harapannya, hal ini bisa direspons oleh kedua calon."

[Gambas:Video CNN]

Kedua, perang dagang antara negara-negara besar seperti AS dan China juga dianggap dapat mengubah konstelasi ekonomi internasional yang berpotensi melebar ke arah lain, termasuk ranah politik dan keamanan.

"Tantangan bagi Indonesia adalah jika terjadi ketidakpastian hubungan internasional dalam konteks ekonomi dan politik, politik luar negeri bebas aktif seperti apa yang dapat digunakan untuk menjawab tantangan, membuka pasar baru dan mengembangkan ekonomi Indonesia, berubah atau menyesuaikan diri dengan konstelasi dunia?" tutur Beginda.

Namun dari semuanya, kata Beginda, siapa pun capres yang terpilih kelak harus dapat mempersatukan bangsa setelah pilpres.

"Yang terpenting adalah persatuan Indonesia. Siapapun pemenangnya, Indonesia harus tetap bersatu karena politik luar negeri kan cerminan kita sebagai bangsa," katanya. (has/has)