FOTO: Hari-hari Umat Muslim Usai Teror di Selandia Baru

Reuters, CNN Indonesia | Jumat, 12/04/2019 19:54 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Sudah sebulan berlalu sejak aksi teror di Kota Christchurch, Selandia Baru. Hal itu membuat umat Muslim setempat sangat trauma.

Parlemen Selandia Baru menyetujui rancangan undang-undang pembatasan senjata api yang diajukan Perdana Menteri Jacinda Ardern, sebagai reaksi atas teror penembakan. (REUTERS/Edgar Su)
Pemerintah Selandia Baru melarang penjualan dan kepemilikan senjata semi-otomatis dan senapan serbu otomatis. (REUTERS/Edgar Su)
Dalam amandemen UU itu, pemerintah Selandia Baru akan membeli senjata-senjata yang dilarang yang dipunyai warga. Nilai senjata itu akan ditaksir dari usia dan kondisi. (REUTERS/Edgar Su)
Jika ada yang menyimpan senjata yang dilarang, maka akan dihukum maksimal lima tahun penjara. Kecuali senjata pusaka yang dimiliki kolektor serta pengendali hama profesional. (REUTERS/Edgar Su)
Akan tetapi aparat keamanan Selandia Baru tetap siaga dan menyatakan ancaman teror masih tinggi. (REUTERS/Edgar Su)
Trauma akibat aksi teror di dua masjid Christchurch, Selandia Baru masih meliputi umat Muslim setempat. (REUTERS/Edgar Su)
Meski sudah empat pekan berlalu, jemaah di dua masjid di Christchurch masih ragu untuk kembali beribadah di sana. (REUTERS/Edgar Su)
Banyak jemaah masjid di Kota Christchurch khawatir ketika hendak beribadah. Rasa takut masih meliputi mereka. (REUTERS/Edgar Su)
Komunitas Muslim Christchurch kembali terguncang ketika seorang lelaki bernama Daniel Nicholas Tuapawa (33), memaki-maki di depan Masjid Al-Noor, dengan mengenakan kaus bergambar Presiden AS, Donald Trump. (REUTERS/Edgar Su)
Namun, umat Muslim di Christchurch perlahan berusaha bangkit usai teror. (REUTERS/Edgar Su)