Usai Ditangkap, Julian Assange Terancam Diekstradisi ke AS

chr, CNN Indonesia | Jumat, 12/04/2019 14:03 WIB
Usai Ditangkap, Julian Assange Terancam Diekstradisi ke AS Pendiri situs WikiLeaks, Julian Assange. (AFP PHOTO / POOL / JOHN STILLWELL / AFP PHOTO / POOL / JOHN STILLWELL)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pendiri WikiLeaks, Julian Assange, terancam bakal diekstradisi ke Amerika Serikat dan hukuman hingga lima tahun penjara. Dia ditangkap kepolisian Inggris di Kedutaan Besar Ekuador di London pada Kamis (11/4) kemarin.

Perdana Menteri Australia, Scott Morrison, mengatakan Assange yang merupakan warga negaranya, akan menerima pendampingan konsulat pada Jumat (12/4). Namun, dia tidak akan diberikan perlakuan khusus.
Menteri Luar Negeri Australia, Marise Payne, mengatakan para pejabat telah diberi tahu, Inggris tidak setuju dengan ekstradisi apabila seseorang menghadapi hukuman mati.

"Australia benar-benar menentang hukuman mati. Itu merupakan posisi seluruh pihak. Permasalahan ekstradisi hanya persoalan antara Amerika Serikat dan inggris," kata Payne seperti dilansir The Guardian.


Setelah 2.487 hari bersembunyi di kedubes Ekuador, Assange ditangkap setelah pemerintah negara itu mencabut suaka politiknya dan meminta kepolisian masuk ke dalam. Lelaki berusia 47 tahun itu meminta suaka dan bermukim di sana sejak 2012, untuk menghindari ekstradisi ke Swedia akibat dugaan pelecehan seksual yang selalu dibantah.

Menurut beberapa teman dan pengikutnya, Assange bersembunyi di kedutaan Ekuador karena takut ditangkap dan diekstradisi ke Amerika Serikat.
Pada Desember lalu, Ekuador memberikan kewarganegaraan kepada Assange dan berusaha memasukkan namanya ke dalam daftar anggota misi diplomatik negara itu di Inggris dan Rusia. Hal itu dilakukan demi meyakinkan Assange aman untuk meninggalkan kedutaan. Namun, Inggris menolak permintaan itu.

Kemarin, dia dinyatakan bersalah karena tak menyerahkan diri, dan menghadapi hukuman maksimal 12 bulan penjara di Inggris.

Assange ditangkap atas permintaan AS. Dia menjadi buronan kasus dugaan konspirasi bersama mantan analis militer AS, Bradley Edward Manning alias Chelsea Elizabeth Manning.

Keduanya diduga bahu membahu mengunduh data rahasia. Kementerian Kehakiman AS menyatakan kasus itu adalah salah satu pencurian informasi terbesar dalam sejarah Amerika Serikat.
Wikileaks merupakan situs yang mempublikasikan informasi rahasia dari kawat diplomatik dan militer AS. Assange juga dituding mencampuri dan memengaruhi pemilihan umum AS 2016 lalu, setelah WikiLeaks merilis surat elektronik kepala tim kampanye Hillary Clinton. (ayp)