Kaisar Baru Jepang Naruhito, Lulusan Oxford yang Sayang Istri

AFP, CNN Indonesia | Rabu, 01/05/2019 11:09 WIB
Kaisar Baru Jepang Naruhito, Lulusan Oxford yang Sayang Istri Kaisar Naruhito dan istrinya, Masako. (Japan Pool/Pool via REUTERS)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kaisar baru Jepang, Naruhito, menghadapi tugas rumit dalam menyeimbangkan tradisi dalam monarki tertua di dunia dan nilai-nilai modern negaranya, termasuk melindungi keluarganya dari aturan kaku istana.

Pria berusia 59 tahun itu tidak malu mengkritik gaya hidup mewah kalangan bangsawan, terutama saat istrinya, Masako, berjuang untuk beradaptasi dengan kehidupan kekaisaran.


Dan seperti ayahnya yang populer, Akihito, ia telah memperingatkan perlunya mengingat Perang Dunia II "dengan benar," tanpa mengecilkan militerisme awal Jepang di abad ke-20.


Dilahirkan pada 23 Februari 1960, Naruhito adalah pangeran Jepang pertama yang tumbuh di bawah atap yang sama dengan orang tua dan saudara kandungnya - anak-anak kerajaan sebelumnya dibesarkan oleh pengasuh dan guru.

Dia belajar selama dua tahun di Universitas Oxford, Inggris, pada 1980-an setelah lulus dengan gelar sejarah di Jepang, dan dilaporkan menghiasi tempat tinggalnya dengan poster aktris Amerika Brooke Shields.

Di Inggris, ia mampu beradaptasi tanpa memamerkan identitas darah birunya, bergaul baik dengan siswa lain sampai keluarga kerajaan Inggris.

Pada tahun 1993, ia menikahi Masako Owada, yang menjadi permaisuri ketika Naruhito mengambil alih takhta Krisan.

Sebagai anak perempuan dari keluarga diplomatik dan dididik di Harvard dan Oxford, Masako meninggalkan karier diplomatik yang menjanjikan untuk menikah dengan keluarga kerajaan.

Tugas baru

Naruhito berjanji untuk "melindungi istrinya dengan cara apa pun" ketika ia melakukan transisi, dan Masako menjelaskan bahwa ia telah mengorbankan kariernya untuk "menjadikan diriku berguna dalam kehidupan baru ini".

Dia juga berada di bawah tekanan besar untuk melahirkan seorang putra karena suksesi kekaisaran Jepang tidak dilanjutkan wanita. Tekanan dari kekaisaran semakin intensif setelah ia melahirkan putrinya Putri Aiko pada tahun 2001 - satu-satunya anak pasangan itu.

Pada 2004, Naruhito menuduh para pemuka istana meredam kepribadian istrinya, dalam sambutan publik yang belum pernah terjadi sebelumnya.


"Bagi saya, Masako nampak lelah dalam upayanya untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan sebagai bangsawan selama 10 tahun terakhir ... Juga benar bahwa ada sesuatu yang sama dengan penolakan terhadap karier Masako sebelumnya," katanya.

Dia menggambarkan Masako "sedih karena dia hampir tidak diizinkan untuk mengunjungi negara-negara asing meskipun dia telah meninggalkan pekerjaannya sebagai diplomat".

Pada tahun yang sama, istana mengungkapkan bahwa Masako telah menjalani perawatan untuk "gangguan penyesuaian" yang disebabkan oleh stres selama dalam pernikahannya.

Naruhito kemudian meminta maaf atas sambutannya, tetapi ia telah menyerukan "tugas kerajaan baru" agar sesuai dengan zaman modern.

Tekanan pada Masako sedikit berkurang ketika adik iparnya melahirkan seorang putra pada tahun 2006, Pangeran Hisahito yang sekarang berusia 12 tahun.

Dekat dengan publik

Naruhito juga mengikuti jejak ayahnya dengan melawan revisionisme atas peran Jepang dalam Perang Dunia II, dengan pernyataan yang dipandang oleh sebagian orang sebagai teguran nasionalisme Perdana Menteri Shinzo Abe.

"Hari ini ketika ingatan akan perang memudar, saya rasa penting untuk melihat kembali masa lalu kita dengan kerendahan hati dan mengajarkan sikap yang sama kepada generasi muda," katanya pada 2015.

Naruhito dan Masako diharapkan dapat menjadi peneduh kekaisaran Jepang, salah satunya ketika mereka tampil bersama untuk mengunjungi korban bencana alam.


"Mereka mungkin akan berdampingan di depan publik - mengunjungi daerah-daerah yang dilanda bencana dan berdoa untuk perdamaian," kata Hideya Kawanishi, seorang profesor di Universitas Nagoya dan ahli sejarah Jepang.

Pada bulan Februari, Naruhito mengatakan dia berharap sebagai kaisar yang "selalu dekat dengan orang-orang dan berbagi suka dan duka".

Tetapi pasangan itu "tidak akan dapat melakukan jumlah kegiatan yang sama" dengan mantan pasangan kekaisaran karena kesehatan Masako, Kawanishi mengatakan kepada AFP.

Dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada hari ulang tahunnya pada bulan Desember, Masako berjanji untuk melakukan yang terbaik meskipun merasa "tidak aman" tentang menjadi permaisuri.

Dalam pernyataan yang jujur, dia mengatakan dia pulih dan bisa "melakukan lebih banyak tugas daripada sebelumnya", memuji "dukungan kuat" dari masyarakat.

Namun dokter telah memperingatkan bahwa dia perlu melanjutkan perawatan dan rentan terhadap kelelahan.

[Gambas:Video CNN]

(ard)