Iran Ancam Pengayaan Uranium Lagi, Prancis dan China Bersuara

CNN Indonesia | Rabu, 08/05/2019 16:44 WIB
Iran Ancam Pengayaan Uranium Lagi, Prancis dan China Bersuara Ilustrasi. (Reuters/Thomas Peter)
Jakarta, CNN Indonesia -- Prancis dan China angkat suara setelah Iran mengancam negara-negara penandatangan kesepakatan nuklir bahwa mereka bakal melanjutkan kembali pengayaan uranium.

Menteri Pertahanan Prancis, Florence Parly, mengatakan bahwa negaranya akan terus memegang teguh komitmen kesepakatan nuklir pada 2015 lalu.

Namun, Prancis memperingatkan Iran dapat dijatuhi sanksi lebih banyak jika tidak mematuhi janjinya dalam kesepakatan nuklir JCPOA tersebut.


"Saat ini, Iran yang akan paling rugi jika meninggalkan perjanjian ini," ujar Parly sebagaimana dikutip Reuters.
Senada dengan Prancis, China juga menyatakan bahwa mereka akan tetap berkomitmen menjalankan kesepakatan nuklir. Namun, mereka meminta semua pihak untuk tenang.

"Kami menyerukan kepada semua pihak terkait untuk tetap tenang, memperkuat dialog, dan menghindari peningkatan ketegangan," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Geng Shuang.

Seruan ini dilontarkan tak lama setelah Presiden Hassan Rouhani mengancam bakal melakukan pengayaan uranium jika pihak-pihak penandatangan JCPOA tak membantu negaranya di tengah sanksi Amerika Serikat.
Melalui pidato di stasiun televisi nasional, Rouhani melontarkan langsung ancaman tersebut kepada negara-negara yang menandatangani kesepakatan nuklir JCPOA, yakni Inggris, Prancis, Jerman, China, dan Rusia.

Rouhani memberikan waktu 60 hari bagi kelima negara tersebut untuk berjanji melindungi sektor minyak dan perbankan Iran di tengah sanksi AS.

"Jika kelima negara tersebut datang ke meja perundingan dan kami mencapai kesepakatan itu, dan jika mereka dapat melindungi kepentingan sektor minyak dan perbankan kami, kami akan tetap melanjutkan komitmen," ujar Rouhani.

[Gambas:Video CNN]

Perjanjian yang diteken pada 2015 lalu itu menyepakati bahwa negara Barat akan mencabut serangkaian sanksi terhadap Teheran. 

Sebagai balasan, Iran harus menyetop segala bentuk pengembangan senjata rudal dan nuklirnya, termasuk pengayaan uranium.

Namun, AS menarik diri secara sepihak dari perjanjian nuklir itu pada Mei 2018 lalu dan kembali menerapkan sanksi atas Iran. (has/has)