Jenderal Angkatan Udara Venezuela Serukan Lawan Maduro

CNN Indonesia | Selasa, 14/05/2019 10:11 WIB
Jenderal Angkatan Udara Venezuela Serukan Lawan Maduro Ilustrasi bentrokan di Venezuela. (AP Photo/Boris Vergara)
Jakarta, CNN Indonesia -- Seorang jenderal Angkatan Udara Venezuela, Ramon Rangel, menyerukan pasukan bersenjata untuk bangkit melawan Presiden Nicolas Maduro.

"Sudah waktunya untuk bangkit, saatnya untuk berperang. Saatnya angkatan bersenjata sadar," ucap Rangel dalam sebuah video yang beredar di media sosial, Senin (13/5).

Meski mengajak satuannya melawan Maduro, Rangel tidak secara khusus meminta militer menyatakan kesetiaan kepada pemimpin oposisi, Juan Guaido.


Rangel tampil tanpa pakaian militernya dalam video itu. Lokasi tempat video itu diambil juga tidak diketahui.
Seorang sumber menuturkan Rangel sudah tidak bertugas secara aktif "selama bertahun-tahun." Kini, ia dikabarkan menjadi manajer sebuah perusahaan negara yang berbasis di Kuba.

Komandan Angkatan Udara, Jenderal Pedro Juliac, mengecam pernyataan Rangel tersebut dan menganggapnya sebagai pengkhianat.

Juliac mengunggah foto Rangel yang dicoret tanda silang dan menulis keterangan "Pengkhianat Rakyat dan Revolusi" di Twitter.

"Mereka yang tidak bermoral tidak akan pernah bisa merusak negara, apalagi merusak angkatan udara. Kami akan menang," katanya.
Rangel merupakan tokoh militer terbaru yang menyerukan angkatan bersenjata Venezuela untuk membelot dari Maduro dan mendukung oposisi.

Dilansir AFP, jenderal angkatan udara lainnya, Francisco Yanez, turut menjanjikan kesetiaannya kepada Guaido yang diakui sebagai presiden interim oleh lebih dari 50 negara.

Guaido telah lama mengajak militer untuk membelot dan membantu upayanya menggulingkan Maduro dari pucuk kekuasaan.

[Gambas:Video CNN]

Ia bahkan menggagas demonstrasi besar-besaran selama perayaan Hari Buruh Internasional lalu yang berakhir ricuh.

Lima orang tewas dalam bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan yang mendukung Maduro. Mahkamah Agung Venezuela juga melaporkan sedikitnya 200 orang ditahan akibat demo tersebut. (rds/has)