China Rayu Turki Lawan 'Kelompok Radikal' di Xinjiang

CNN Indonesia | Jumat, 17/05/2019 11:33 WIB
China Rayu Turki Lawan 'Kelompok Radikal' di Xinjiang Kamp pendidikan keterampilan Uighur di Kashgar, Xinjiang. (ANTARA FOTO/M. Irfan Ilmie)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah China membujuk Turki untuk memerangi kelompok militan Turkistan Timur yang berada di wilayah Xinjiang. Sebab, Turki menjadi satu-satunya negara yang menaruh perhatian khusus terhadap situasi di Xinjiang dan dugaan persekusi terhadap etnis Uighur.

"Kami berharap pihak Turki juga dapat sungguh-sungguh menghormati kepentingan China dalam melindungi kedaulatan dan keamanan nasional, serta mendukung upaya China memberantas teroris 'Turkistan Timur' dan menjaga situasi kerjasama strategis antara kedua negara ini," ujar diplomat senior sekaligus Penasihat Negara China, Wang Yi, seperti dilansir Reuters, Jumat (17/5).
Dalam pertemuan dengan Wakil Menteri Luar Negeri Turki, Sedat Onal, di Beijing, Wang menyatakan China sejauh ini telah membantu perkembangan Turki, khususnya dari segi perekonomian.

China menyatakan selalu menghormati kedaulatan dan integritas wilayah Turki, bahkan mendukung dalam menjaga keamanan serta stabilitas nasional negaranya.


Terkait hal itu, Sedat Onal menyatakan akan mendukung upaya China tersebut. Bahkan Turki juga bersedia untuk memperdalam kerjasama dengan China.

Turki sempat mengkritik China terkait pemenuhan hak-hak penduduk Muslim Turki di daerah Xinjiang tersebut.
China menuding Gerakan Turkistan Timur terkait aksi penyerangan di wilayah Xinjiang dalam beberapa tahun terakhir ini. Namun, banyak diplomat dan para ahli luar negeri masih meragukan apakah kelompok itu memang nyata.

Sejauh ini, China menyatakan proses deradikalisasi di Xinjiang dengan membangun 'kamp pelatihan' telah membawa kestabilan keamanan.

Namun, pemerintah China dituduh melanggar hak asasi manusia terkait pendirian kamp yang mereka sebut 'pusat pelatihan keterampilan'. Sebab, banyak pengakuan dari sejumlah etnis Uighur beberapa kerabat mereka dimasukkan paksa ke kamp itu bahkan dilaporkan hilang. (ajw/ayp)