Remaja Imigran Guatemala Tewas dalam Tahanan AS

CNN Indonesia | Rabu, 22/05/2019 06:03 WIB
Remaja Imigran Guatemala Tewas dalam Tahanan AS Ilustrasi. (Istockphoto/Katarzyna Bialasiewicz)
Jakarta, CNN Indonesia -- Seorang remaja imigran dari Guatemala, Carlos Gregorio Hernandez Vasquez, dinyatakan tewas dalam tahanan Amerika Serikat pada Selasa (21/5).

Sejumlah media lokal melaporkan bahwa Vasquez sempat merasa tidak enak badan dan terserang flu saat ditahan di Texas. Ia kemudian diberi obat jenis Tamiflu sebelum dipindahkan ke fasilitas Weslaco.
Namun, hingga kini, belum ada keterangan resmi dari aparat AS mengenai alasan kematian Vasquez. Menurut hukum AS, anak di bawah umur yang tidak didampingi harus dipindahkan ke fasilitas Hyperglycemic hyperosmolar syndrome (HHS) dalam waktu 72 jam pasca-penahanan.
 
Sampai saat ini, masih belum jelas pula alasan Vasquez tidak dipindahkan dalam kurun waktu yang ditentukan tersebut.

Komisaris pelaksana badan bea cukai dan perlindungan perbatasan AS (CBP), John Sanders, hanya mengucapkan belasungkawa atas kematian Vasquez.
 
"CBP berkomitmen untuk memberikan perawatan kesehatan, keamanan, dan perawatan manusiawi bagi mereka yang berada dalam tahanan kami," katanya.
Vasquez sendiri merupakan imigran anak kelima yang tewas di dalam tahanan patroli perbatasan AS sejak Desember lalu.

Sebelumnya, seorang bocah laki-laki berusia dua tahun asal Guatemala juga tewas di rumah sakit setelah ia dan ibunya ditahan patroli pekan lalu.

Lembaga Patroli Perbatasan AS memang sudah mendapatkan sorotan luas selama beberapa bulan terakhir terkait perlakukan terhadap tahanan imigran anak.
 
[Gambas:Video CNN]
 
Insiden ini juga menarik perhatian banyak pihak, termasuk kelompok hak asasi manusia (HAM) yang mengecam dan meminta pertanggungjawaban pemerintahan Presiden Donald Trump.
 
"Kami telah meminta agar pemerintahan Trump mengubah praktik penahanan yang tidak manusiawi tersebut guna mencegah terjadinya kematian tragis," demikian pernyataan Amnesty International.


(ajw/has)