RI Pimpin Rapat PBB, AS Desak Badan Pengungsi Palestina Bubar

CNN Indonesia | Kamis, 23/05/2019 10:21 WIB
RI Pimpin Rapat PBB, AS Desak Badan Pengungsi Palestina Bubar AS mendesak pembubaran organisasi PBB yang mengurus pengungsi Palestina (UNRWA). Desakan ini disampaikan dalam rapat Dewan Keamanan PBB yang dipimpin Indonesia. (Dok. Kemlu RI)
Jakarta, CNN Indonesia -- Amerika Serikat mendesak komunitas internasional membubarkan organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengurus pengungsi Palestina (UNRWA). Desakan ini disampaikan dalam rapat Dewan Keamanan PBB yang dipimpin Indonesia.

Dalam rapat pada Rabu (22/5) itu, utusan Presiden Donald Trump untuk urusan Timur Tengah, Jason Greenblatt, mengatakan UNRWA adalah sebuah organisasi "band-aid" yang dibentuk sementara waktu.

Greenblatt mengatakan bahwa sudah saatnya segala urusan UNRWA yang selama ini membantu sedikitnya lima juta pengungsi Palestina diserahkan kepada negara-negara penampung para pengungsi dan organisasi non-pemerintah (NGO) lainnya.


"Model UNRWA telah menggagalkan warga Palestina," kata Greenblatt sebagaimana dikutip AFP.
Rapat bertema situasi di Timur Tengah itu dihadiri oleh seluruh 15 negara anggota DK PBB, termasuk Indonesia.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi memimpin langsung rapat tersebut lantaran Indonesia masih memegang jabatan presiden DK PBB selama bulan Mei ini.

Dalam rapat tersebut, Retno mengapresiasi program UNRWA dalam memperbaiki situasi kemanusiaan rakyat Palestina.

Dibentuk pada 1949 lalu, UNRWA memberikan bantuan terutama pendidikan dan kesehatan bagi lima juta pengungsi Palestina di Yordania, Libanon, Suriah, Jalur Gaza, dan Tepi Barat.
Badan tersebut telah lama menjadi duri bagi Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Tel Aviv meminta UNRWA ditutup dengan alasan organisasi itu anti-Israel dan hanya mengabadikan masalah pengungsi Palestina.

Tahun lalu, Trump menghentikan seluruh bantuan AS untuk UNRWA yang bernilai lebih dari Rp5,4 triliun setiap tahunnya. 

Langkah itu membuat UNRWA berada dalam krisis keuangan lantaran selama ini AS merupakan donor terbesar badan tersebut.
Melalui video telekonferensi dalam rapat yang sama, Kepala UNRWA, Pierre Kraehenbuehl, mengatakan pihaknya berhasil bertahan dari krisis keuangan.

Kraehenbuehl menuturkan UNRWA berhasil menambal defisit senilai US$446 juta pada tahun lalu melalui pemotongan bujet dan bantuan dari donor-donor baru.

"Ketika pengungsi Palestina hampir tidak memiliki eksistensi dalam cakrawala politik, saya sangat yakin bahwa menjaga bantuan UNRWA merupakan kontribusi penting dalam hal kemanusiaan dan stabilitas regional," kata Kraehenbuehl. (rds/has)