Gunung Sampah di India Bakal Kalahkan Tinggi Taj Mahal

AFP, CNN Indonesia | Rabu, 05/06/2019 05:50 WIB
Gunung Sampah di India Bakal Kalahkan Tinggi Taj Mahal Gunung sampah di TPA Ghazipur New Delhi, India terus bertambah tinggi. (XAVIER GALIANA / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gunung sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Ghazipur, New Delhi, tak lama lagi akan mencetak rekor baru. Ketinggian tumpukan sampah di tempat itu akan menyusul Taj Mahal.

Elang dan sejumlah burung lainnya terbang sesuka hati di sekitar TPA yang berada di timur New Delhi tersebut. Di daratan gunung sampah itu, anjing dan sapi liar menjelajah bersama tikus mengais makanan sembari ditemani asap dan bau busuk.

Memiliki luasan lebih dari 40 lapangan sepak bola, TPA Ghazipur diketahui bertambah tinggi hampir 10 meter setiap tahun. Angka itu belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir seiring dengan sampah dari ibu kota yang terus berdatangan.


Menurut teknisi pengawas Delhi Timur, Arun Kumar, saat ini gunung sampah tersebut sudah melewati ketinggian 62 meter. Berdasarkan angka pertumbuhan tingginya, gunung sampah itu akan melebihi ketinggian Taj Mahal, yaitu 73 meter, pada 2020.

Mahkamah Agung India memperingatkan pada tahun lalu bahwa lampu merah peringatan terbang harus ditempatkan pada gunung sampah itu untuk keamanan pesawat dan jet yang melintas di atasnya.


TPA Ghazipur ini mestinya tak harus memiliki gunung sampah, dalam artian sebenarnya. TPA yang dibuka pada 1984 ini telah mencapai batas kapasitasnya pada 2002 dan seharusnya ditutup pada saat itu.

Namun sampah dari ibu kota terus berdatangan. Setidaknya ratusan truk sampah membuang muatannya di tempat itu, setiap hari.

"Sekitar 2.000 ton sampah dibuang di Ghazipur setiap hari," kata pejabat Delhi yang tak ingin disebutkan namanya.

Bahkan, gunung sampah ini sempat longsor pada 2018 lalu. Longsoran pada salah satu sisi gunung sampah ini menewaskan dua orang saat itu.

Pemerintah setempat sempat melarang pembuangan sampah ke Ghazipur usai insiden tersebut. Namun hanya bertahan beberapa hari karena mereka juga tak menemukan tempat pembuangan alternatif.

TPA Ghazipur dari kejauhan.TPA Ghazipur dari kejauhan. (Prakash SINGH / AFP)

Berefek Lima Kilometer

Kobaran api yang terpercik dari gas metana akibat pembusukan sampah di 'gunung' Ghazipur selalu terjadi dan membutuhkan waktu berhari-hari untuk dipadamkan.

Shambhavi Shukla, peneliti senior di the Center for Science and Environment New Delhi mengatakan bahwa gas metana yang muncul dari pembusukan sampah itu bisa lebih mematikan bila tercampur di atmosfer.

Di sisi lain, leachate atau cairan hitam beraroma busuk yang keluar dari tumpukan sampah mengalir dari gunung sampah itu ke saluran air lokal.

Leachate amat beracun bagi lingkungan karena memiliki kandungan organik, logam, asam, garam terlarut, dan mikroorganisme yang tinggi.

"Semua ini harus dihentikan karena pembuangan sampah secara kontinu telah mencemari udara dan air tanah," kata Chitra Mukherjee, kepala grup advokasi lingkungan Chintan.


Masyarakat setempat mengatakan bahwa aroma busuk yang datang dari gunung sampah itu telah membuat mereka kesulitan bernapas.

"Bau busuk itu membuat hidup kami serasa di neraka. Orang-orang terus jatuh sakit sepanjang waktu," kata Puneet Sharma, pria 45 tahun yang merupakan warga setempat.

Beragam protes yang ditujukan kepada pemerintah nyatanya tak berefek. Kini, banyak masyarakat sudah meninggalkan daerah tersebut.

Masyarakat juga mengatakan bahwa sebuah pabrik yang didirikan untuk mengubah sampah menjadi energi semakin membuat hidup mereka sengsara. Pabrik itu menghasilkan limbah asap yang membuat udara semakin sesak dan beracun.

Dokter lokal Kumud Gupta mengatakan ia menyaksikan sekitar 70 orang, termasuk bayi, setiap harinya menderita penyakit infeksi akut pada saluran pernapasan dan pencernaan karena udara yang tercemar.

Sebuah studi baru-baru ini menyebutkan dampak dari keberadaan gunung sampah itu dirasakan oleh masyarakat dalam radius lima kilometer. Dampak paling serius adalah ancaman kesehatan, termasuk kanker.

Kawasan penduduk berlatar lereng gunung sampah Ghazipur.Kawasan penduduk berlatar lereng gunung sampah Ghazipur. (Money SHARMA / AFP)

Tak Becus

Jalanan macet, industri berat, dan pembakaran lahan tahunan yang terjadi di kawasan sekitar Delhi telah membuat ibu kota India tersebut terkenal akan pencemarannya.

Sebuah riset pemerintah yang dilakukan antara 2013-2017 melaporkan bahwa terjadi 981 kematian di Delhi akibat infeksi pernapasan akut. Sementara itu, lebih dari 1,7 juta jiwa menderita dari berbagai infeksi.

Kondisi itu nyatanya tak membuat pertumbuhan gunung sampah Ghazipur berhenti.

Sejumlah kota di India tercatat sebagai produsen sampah terbesar di dunia, rata-rata menghasilkan 62 juta ton sampah per tahun. Pada 2030 nanti, angka itu akan melesat menjadi 165 juta ton, berdasarkan proyeksi pemerintah setempat.


Mukherjee mengatakan sampah dan limbah telah menjadi tantangan besar karena meningkatnya taraf hidup masyarakat India yang kemudian mendorong angka konsumsi dan produk sampah yang tak bisa dikendalikan dengan baik oleh pemerintah.

Ketika memerintah pada 2014, Perdana Menteri India Narendra Modi meluncurkan Operasi India Bersih yang membangun puluhan ribu toilet umum dan merilis peraturan baru soal pengelolaan limbah pada 2016.

Namun pengawas, termasuk Mahkamah Agung, telah berulang kali menuduh pemerintah lokal Delhi tak becus mengurus krisis sampah ini. Pemerintah yang sepertiganya dikuasai partai sayap kanan Modi setempat diketahui kerap berkonflik politik.

(end)