Bunuh 85 Pasien, Perawat Jerman Divonis Penjara Seumur Hidup

CNN Indonesia | Kamis, 06/06/2019 16:35 WIB
Bunuh 85 Pasien, Perawat Jerman Divonis Penjara Seumur Hidup Jerman memvonis bui seumur hidup Niels Hoegel, perawat yang dikenal sebagai pembunuh berantai paling mematikan di negaranya usai menghabisi nyawa 85 pasien. (Reuters/Hauke-Christian Dittrich/POOL)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pengadilan Jerman menjatuhkan vonis penjara seumur hidup atas Niels Hoegel, perawat yang dikenal sebagai pembunuh berantai paling mematikan di negaranya usai menghabisi nyawa 85 pasien rumah sakit.

Dalam persidangan pada Kamis (6/6), hakim pengadilan Jerman, Sebastian Buehrmann, menjatuhkan hukuman ini karena menganggap tindakan Hoegel "tak bisa ditoleransi."

Hoegel ditahan pada 2005 lalu, ketika tertangkap tangan tengah memberikan suntikan mati pada salah satu pasien di rumah sakit tempat dia bekerja di Delmenhorst.


Setelah diselidiki lebih lanjut, Hoegel ternyata tak hanya membunuh satu pasien. Pada 2015, ia akhirnya dibui karena terbukti bersalah melakukan pembunuhan terhadap enam pasiennya.
Aparat lantas menyelidiki ratusan kematian pasien lainnya di tempat Hoegel bekerja. Selama proses penyelidikan, aparat mengautopsi 130 jenazah, tapi kepolisian menduga Hoegel sudah membunuh lebih dari 200 pasien.

Namun, pengadilan tak dapat membuktikan tuduhan tersebut karena Hoegel sendiri tak bisa mengingat sebagian besar aksinya.

Sementara itu, banyak jasad korban juga tak bisa diautopsi karena sudah dikremasi sebelum Hoegel tertangkap.
Menurut Buehrmann, jumlah korban yang tewas karena ulah Hoegel "melebihi batas imajinasi manusia."

Dalam persidangan sebelumnya, Hoegel mengaku melakukan aksi brutal itu hanya karena kebosanan.

Menurut surat dakwaan yang dirujuk CNN, jaksa penuntut menyebut Hoegel memberikan berbagai obat tanpa resep kepada pasiennya dalam dosis tinggi hanya untuk memamerkan keahliannya menyadarkan kembali para korban di hadapan teman-temannya.
AFP pernah melaporkan, Hoegel akan bersorak gembira ketika ia berhasil menyelamatkan pasien, dan terpuruk jika gagal.

Akibat aksi tersebut, Hoegel diduga menghilangkan nyawa 62 pasien di Delmenhorst dan 35 orang di klinik Oldenburg.

Dalam persidangan terakhir pada pekan ini, Hoegel meminta maaf kepada keluarga korban atas "aksi keji" tersebut.

"Saya ingin meminta maaf secara tulus atas segala yang saya perbuat terhadap kalian selama bertahun-tahun," katanya sebagaimana dikutip AFP. (has/has)