Rezim Era Soviet Masih Kuasai Pilpres Kazakhstan

CNN Indonesia | Selasa, 11/06/2019 11:06 WIB
Rezim Era Soviet Masih Kuasai Pilpres Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev. (Kazakh Presidential Press Service/Handout via Reuters)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kassym-Jomart Tokayev dilaporkan menang dalam pemilihan presiden Kazakhstan. Namun, kelompok oposisi menuduh kemenangan Tokayev penuh rekayasa, dan dia juga bersikap represif terhadap demonstrasi damai.

Seperti dilansir Associated Press, Selasa (11/9), Komisi Pemilihan Umum Kazakhstan menyatakan Tokayev unggul dengan meraih suara 70,76 persen. Sedangkan pesaingnya, Amirzhan Kosanov, mendapatkan 16,2 persen suara.
Tokayev adalah sekutu mantan presiden Kazakhstan, Nursultan Nazarbayev (78). Nazarbayev mundur dari jabatannya setelah memimpin negara itu sejak lepas dari Uni Soviet pada 1991.

Tokayev yang menggantikan Nazarbayev sebagai presiden sementara.


Pergolakan politik di Kazakhstan terjadi karena Nazarbayev sudah berkuasa selama 28 tahun dan dianggap represif terhadap kelompok oposisi. Generasi muda Kazakhstan juga menyatakan sudah jengah dipimpin oleh rezim dari masa Uni Soviet.
Bahkan kemenangan Tokayev juga disebut untuk mempersiapkan jalan bagi anak Nazarbayev, Dariga Nazarbayeva, untuk menjadi presiden di masa mendatang.

Aparat kepolisian Kazakhstan juga bersikap represif terhadap para demonstran damai yang menolak Tokayev yang mengikuti pemilihan presiden. Sekitar seratus orang dibekuk oleh polisi.

Di sisi lain, pendukung Kosanov juga kecewa karena unggulan mereka terlalu santun dalam berkampanye. Padahal kelompok oposisi sudah mengkampanyekan gerakan Kazakhstan Bangkit untuk menggalang dukungan menentang rezim Nazarbayev.
Ekonomi negara yang belum bisa sepenuhnya pulih dari fenomena penurunan harga minyak pada 2014 juga disebut sebagai salah satu faktor pendorong Nazarbayev mundur. Minyak memang salah satu sumber pendapatan utama negara di Asia Tengah itu. (ayp/ayp)