Saudi Tuding Iran Perintahkan Houthi Rudal Bandara

CNN Indonesia | Kamis, 13/06/2019 15:34 WIB
Saudi Tuding Iran Perintahkan Houthi Rudal Bandara Ilustrasi militan Houthi. (Reuters/Khaled Abdullah)
Jakarta, CNN Indonesia -- Arab Saudi menuding Iran memerintahkan kelompok pemberontak Houthi untuk meluncurkan rudal ke bandara di negaranya.

"Agresi rezim Iran dan peningkatan ketegangan ini, baik langsung maupun melalui milisi, akan diganjar dengan konsekuensi keras," ujar Wakil Menteri Pertahanan Saudi, Pangeran Khaled bin Salman melalui Twitter.




Melanjutkan pernyatannya, putra Raja Salman itu menulis, "Kami akan melawan kejahatan milisi Houthi dengan kekuatan penuh."

Pernyataan ini dilontarkan tak lama setelah Houthi dilaporkan menyerang bandara sipil di resor pegunungan Abha pada Rabu (12/6) yang menyebabkan kerusakan di terminal keberangkatan.

"Mereka menargetkan bandara sipil dan memperlihatkan kepada dunia kenekatan peningkatan ketegangan Iran dan bahaya terhadap keamanan dan stabilitas kawasan," tutur Khaled.
Selama ini, Saudi memang menuding Iran memberikan dukungan penuh untuk Houthi. Namun, Iran selalu menegaskan bahwa mereka tak memberikan lebih dari dukungan moral.

Meski demikian, Saudi terus menuding Houthi sebagai perpanjangan tangan Iran untuk perang proksi di Yaman.

"Iran adalah satu-satunya tezim di kawasan yang memanfaatkan peningkatan ketegangan, menggunakan rudal balistik dan kendaraan udara untuk menargetkan instalasi sipil dan warga sipil tak bersalah," kata Khaled.

[Gambas:Video CNN]

Menutup pernyataan itu, Khaled berkata, "Selama 40 tahun, rezim Iran menebar kekacauan, kematian, dan kehancuran, dengan mendukung dan mendanai organisasi teroris, termasuk Houthi."

Saudi sendiri turun tangan dalam perang di Yaman sejak 2015 lalu, ketika Houthi mulai menguasai Istana Kepresidenan di Sanaa.

Saat itu, Presiden Yaman, Abd-Rabbu Mansour Hadi, kabur meminta pertolongan ke Saudi dan sempat bersembunyi di sana. Saudi lantas memutuskan untuk melakukan serangan udara ke wilayah yang dikuasai Houthi di Yaman.

Merujuk pada laporan sejumlah lembaga pemantau, perang yang pecah sejak 2015 itu hingga kini sudah merenggut lebih dari puluhan ribu nyawa, sekitar 17 ribu di antaranya adalah warga sipil. (has)