Khamenei Ampuni 691 Napi Iran saat Idul Fitri

CNN Indonesia | Senin, 10/06/2019 14:10 WIB
Khamenei Ampuni 691 Napi Iran saat Idul Fitri Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. (Official Khamenei website/Handout via REUTERS)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, mengampuni 691 narapidana di Hari Raya Idul Fitri yang jatuh pada Selasa (4/6) pekan lalu. Kantor berita Mizan melaporkan keputusan itu diambil Khamenei sebagai bentuk perayaan hari Lebaran.

Meski begitu, Nizar Zakka, salah satu warga Libanon yang disebut akan menerima remisi, ternyata tak masuk dalam daftar napi yang diampuni
Zakka divonis penjara 10 tahun pada 2016 setelah dituduh bersalah karena menjadi mata-mata Amerika Serikat selama berada di Iran.

Dikutip kantor berita Libanon NNA, Kementerian Luar Negeri Libanon mengatakan Zakka akan dibebaskan atas permintaan Beirut sebagai itikad baik di Hari Raya Idul Fitri kemarin.


Namun, juru bicara Kemlu Libanon, Gholamhossein Esmaili, memaparkan nama Zakka tak tertera dalam 691 daftar napi yang diampuni Khamenei.

"Orang itu (Zakka) dijatuhi hukuman dan Presiden Libanon dalam suratnya kepada pejabat pengadilan meminta mengampuninya secara bersyarat," kata Esmaili seperti dilansir AFP, Senin (10/6).
"Permintaan pengampunan ini telah dalam proses pengadilan dan jika ada keputusan yang diambil oleh otoritas pengadilan, informasi akan diberikan," paparnya menambahkan.

Zakka merupakan warga Libanon berusia 50 tahun yang memiliki izin tinggal permanen di Amerika Serikat. Dia ditangkap ketika berkunjung ke Iran pada September 2015 lalu.

Pada Juli 2016, Zakka divonis 10 tahun penjara karena dinyatakan bersalah menjadi mata-mata AS di Iran. Sekitar akhir 2017, Pengadilan Tinggi Iran menguatkan hukuman itu.

Saat itu, televisi pemerintah Iran menyebut Zakka memiliki "ikatan mendalam dengan militer dan badan intelijen AS" yang merupakan musuh bebuyutan Teheran.

[Gambas:Video CNN]

Stasiun televisi itu bahkan sempat menyiarkan sejumlah foto yang memperlihatkan seorang pria berseragam militer di pangkalan AS. Pria itu diyakini merupakan Zakka.

Meski Zakka sempat mengajukan banding, pengadilan Iran tetap mengukuhkan hukuman 10 tahun penjara kepada dirinya. Di waktu yang sama, Iran juga memvonis seorang warga AS dan dua warga keturunan Iran-AS yang dituduh jadi mata-mata dengan Negeri Paman Sam. (rds/ayp)