Ratusan Restoran di Teheran Dituduh Sarang Maksiat Ditutup

CNN Indonesia | Selasa, 11/06/2019 02:59 WIB
Ratusan Restoran di Teheran Dituduh Sarang Maksiat Ditutup Ilustrasi suasana di Ibu Kota Teheran, Iran. (AFP PHOTO / ATTA KENARE)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sekitar 547 restoran dan kafe di Ibu Kota Teheran, Iran ditutup pada Sabtu (8/6) oleh pihak kepolisian karena dianggap menjadi tempat maksiat. Operasi tersebut dilaksanakan selama 10 hari terakhir.

"Para pemilik restoran dan kafe yang tidak menyediakan layanan sesuai prinsip Islam telah dipanggil, dan selama operasi ini 547 bisnis rumah makan ditutup dan 11 pelanggar ditangkap," ujar kepala polisi, Hossein Rahimi, seperti dilansir The Guardian, Senin (10/9).
"Mengawasi prinsip-prinsip Islam merupakan salah satu dari misi utama dan tanggung jawab pihak kepolisian," tegasnya.

Pelanggaran yang dilakukan termasuk penggunaan iklan tidak konvensional di dunia maya, memainkan musik ilegal dan menyediakan tempat pelacuran.


Kepala pengadilan Teheran yang mengurus perihal kejahatan kebudayaan dan korupsi moral mengimbau warganya agar melaporkan segala kasus terkait "perilaku tak bermoral" dengan cara mengirimkan pesan ke nomor telepon yang disediakan.

"Orang-orang hendak melaporkan pihak yang melanggar norma-norma tersebut namun mereka tidak tahu bagaimana ... Kami memutuskan untuk mempercepat pengurusan aksi tak bermoral tersebut," ujar Kepala Pengadilan Teheran, Mohammad Mehdi Hajmohammadi.
Ia juga menambahkan, masyarakat dapat melaporkan tindakan-tindakan amoral seperti melepas hijab di mobil, mengadakan pesta dansa campuran antara pria dan wanita, atau mengunggah konten-konten tak berakhlak di media sosial Instagram.

Menurut ketetapan berpakaian dalam Islam di Iran, wanita hanya dapat menunjukkan wajah, tangan dan kaki mereka di depan umum. Mereka juga wajib mengenakan pakaian dengan warna tak mencolok.

Pada 2012 lalu, pemerintah Iran mewajibkan seluruh kafe untuk memasang kamera pengawas guna mengawasi perilaku para pelanggannya. Namun, sebagian pemilik kafe lebih memilih untuk menutup bisnis mereka.
"Kami merasa nyaman mengetahui bahwa setidaknya kami tidak membiarkan mata lensa kamera itu mengamati dan merekam setiap langkah, menit dan memori kami dari subuh hingga petang," tulis salah seorang pemilik Kafe Prague di laman Facebook-nya. (ajw/ayp)