Asa Upah Setara dalam Unjuk Rasa Ratusan Ribu Perempuan Swiss

Tim, CNN Indonesia | Sabtu, 15/06/2019 05:04 WIB
Asa Upah Setara dalam Unjuk Rasa Ratusan Ribu Perempuan Swiss Foto: AFP PHOTO / Andrew CABALLERO-REYNOLDS
Jakarta, CNN Indonesia -- Ratusan ribu perempuan bergabung dalam sebuah aksi mogok dan unjuk rasa di sejumlah kota-kota besar Swiss pada Jumat (14/6). Mereka menuntut kesetaraan gender dan perlakuan yang lebih baik, termasuk di antaranya menyoal bayaran upah.

"Ratusan ribu wanita mengambil bagian dalam aksi. 14 Juni 2019 menjadi sejarah bagi Swiss sebagai salah satu peristiwa politik terbesar," ujar USS, salah satu organisasi yang menginisiasi aksi, dalam sebuah pernyataan, mengutip AFP.

Aksi ini dilakoni oleh sejumlah perempuan dari berbagai serikat pekerja, kelompok feminis, dan organisasi-organisasi perempuan. Mereka berpendapat bahwa Swiss, sebagai salah satu negara terkaya di dunia, memberikan perlakuan yang buruk kepada separuh penduduknya.

Mengutip CNN, pada tengah malam, pengunjuk rasa datang berbondong-bondong bersamaan dengan moto aksi: "Bayar, waktu, rasa hormat." Kalimat itu merupakan ekspresi dari kesenjangan gender yang terjadi di tempat kerja dan ranah domestik.

Dalam aksi tersebut, sejumlah anggota parlemen turut bergabung. Mereka mengenakan warna ungu yang diadopsi sebagai warna dari gerakan tersebut.

Aksi ini menjadi yang pertama setelah demonstrasi serupa terakhir pada 1991 silam. Saat itu, protes serupa melibatkan sekitar 500 ribu perempuan yang menentang kesenjangan gender di semua sektor kehidupan.

Gerakan itu mendorong disahkannya Undang-Undang Kesetaraan Gender pada 1995. Beleid itu mengatur persoalan diskriminasi dan pelecehan seksual di tempat kerja.

Kini, Swiss menempati urutan pertama dalam indeks kesetaraan gender UNDP. Kendati gemilang, namun diskriminasi itu disebut masih eksis.

Perempuan masih mendapatkan diskriminasi di dunia profesional, keamanan kerja yang terbatas, dan buruknya perlindungan bagi perempuan yang mengalami pelecehan serta kekerasan.

Hal itu didukung oleh data milik badan statistik Swiss. Dalam pekerjaan penuh waktu, rata-rata perempuan Swiss berpenghasilan 19,6 persen lebih rendah daripada pria. Kesenjangan gender dalam perkara gaji masih terus meningkat.

"Meskipun undang-undang itu ada untuk melindungi kesetaraan, perempuan masih belum mencapai hak yang sama di tempat kerja," ujar Sekretaris Konfederasi Serikat Buruh Swiss, Regula Buhlmann.

Dalam sebuah manifesto berisi 19 poin, perempuan Swiss menyerukan perlindungan yang lebih baik, upah setara, waktu kerja yang fleksibel, hak untuk memilih identitas seksual, perjuangan melawan homofobia, dan beberapa lainnya.

Lebih dari dua dekade, beleid kesetaraan gender diabadikan dalam konstitusi Swiss. Namun, hingga kini implementasi dinilai masih sangat kurang.

Swiss berada pada peringkat ke-20 dalam klasifikasi negara-negara World Economic Forum tentang kesetaraan gender. Ia berada jauh di bawah negara-negara Eropa lainnya.

Hasil lebih mengkhawatirkan terlihat saat berbicara mengenai kesetaraan gender dalam sektor ekonomi. Swiss duduk meringkuk di posisi 34.

Sebuah laporan yang diterbitkan oleh Tribune de Geneve membuktikan hal tersebut. Dalam laporan disebutkan bahwa perempuan yang bekerja di sektor perbankan berpenghasilan 25 persen lebih rendah daripada pria.

[Gambas:Video CNN]


(asr/asr)