AS Isyaratkan Tunda Perilisan Proposal Damai Israel-Palestina

CNN Indonesia | Senin, 17/06/2019 07:09 WIB
AS Isyaratkan Tunda Perilisan Proposal Damai Israel-Palestina Utusan AS untuk Timur Tengah, Jason Greenblatt, mengisyaratkan negaranya akan tunda perilisan proposal damai Israel-Palestina gagasan pemerintahan Donald Trump. (AFP Photo/Jaafar Ashtiyeh)
Jakarta, CNN Indonesia -- Utusan Amerika Serikat untuk urusan Timur Tengah, Jason Greenblatt, mengisyaratkan bahwa negaranya akan menunda pengungkapan proposal perdamaian Israel-Palestina gagasan pemerintahan Presiden Donald Trump menjadi November.

"Saya rasa logikanya adalah jika kami harus menunggu sampai pemerintahan baru Israel terbentuk, kami harus menunggu setidaknya sampai 6 November," ujar Greenblatt sebagaimana dikutip AFP, Minggu (16/6).
Saat ini, pemerintahan Israel memang belum terbentuk karena Perdana Menteri Benjamin Netanyahu selaku pemenang pemilihan umum tak berhasil menggalang koalisi.

Akibatnya, Israel harus menggelar pemilu putaran kedua pada 17 September mendatang, membuat semua agenda pemerintahan tertunda.


"Bukan rahasia bahwa pemilu Israel tentu membawa pemikiran baru di kepala kami. Kalau saja tak ada pemilu putaran kedua, mungkin kami sudah merilisnya," ucap Greenblatt.
AS sendiri sudah menunda pengumuman proposal perdamaian ini agar tak bentrok dengan pemilu Israel pada 9 April lalu. Mereka kemudian menunda kembali pengumuman tersebut menjadi setelah Ramadan.

Kerangka pembicaraan damai gagasan pemerintahan Trump ini menjadi sorotan internasional karena sebelumnya, sejumlah pejabat AS membocorkan bahwa proposal tersebut tak akan mencantumkan solusi dua negara.

[Gambas:Video CNN]

Selama ini, komunitas internasional menganggap solusi dua negara sebagai jalan terbaik untuk menyelesaikan konflik Israel-Palestina.

Meski dikecam, dalam rapat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa yang dipimpin Indonesia pada Mei lalu, Greenblatt mengatakan bahwa proposal tersebut "menawarkan pendekatan baru yang lebih segar."

Ia mengatakan proposal tersebut akan lebih "realistis dan ramah diimplementasikan" dan merupakan "paket perdamaian yang tepat untuk kedua belah pihak." (has)