Warga Meninggal Karena Gelombang Panas, India Mulai Berbenah

CNN Indonesia | Rabu, 19/06/2019 15:45 WIB
Warga Meninggal Karena Gelombang Panas, India Mulai Berbenah Ilustrasi warga India berteduh dari gelombang panas. (REUTERS/Amit Dave)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah pemerintah kota di India mendesak pemerintah agar mengambil tindakan guna menekan korban meninggal dan penyebaran penyakit akibat gelombang panas sebagai dampak pemanasan global yang melanda wilayah mereka. Setidaknya 36 warga India meninggal diduga karena suhu udara yang terus meningkat tahun ini.

Seperti dilansir Reuters, Rabu (19/6), suhu tertinggi di India tercatat di wilayah Churu, Rajasthan yang mencapai 51 derajat celsius. Sementara, suhu di ibukota New Delhi dilaporkan mencapai 48 derajat Celsius.
Menurut Sayantan Sarkar yang pernah membantu penerapan Rencana Aksi Panas (HAP) India di kota Ahmedabad pada 2013 silam, kota-kota India mengalami kenaikan suhu karena banyaknya jalan beraspal dan kurangnya pepohonan.

"Kota-kota menanggung beban gelombang panas ini karena mereka sangat padat penduduk dan karena dampaknya semakin jelas," ujar Sarkar.


"Tapi tidak semua kota memiliki kemampuan untuk menerapkan langkah-langkah yang diperlukan, dan kurangnya catatan medis yang lengkap membuatnya sulit untuk menolong kelompok yang rentan seperti tunawisma dan pekerja migran," tambahnya.

Rencana Aksi Panas (HAP) di kota Ahmedabad, India dilakukan setelah gelombang panas terjadi pada 2010 yang mengakibatkan lebih dari 1.300 kematian.

Rencana aksi dalam HAP seperti menyediakan sistem peringatan menggunakan tampilan elektronik di tempat umum juga melalui pesan teks. Pemerintah juga memberikan latihan kepada petugas medis untuk mengetahui gejala penyakit akibat pemanasan global, serta menyediakan "atap dingin" dari bahan tertentu atau pelapis di beberapa kawasan pemukiman kumuh.
Menurut Shivani Chaudhry selaku direktur eksekutif Jaringan Permukiman dan Hak Tanah (HLRN), rencana tersebut sangat membantu sejumlah kota seperti Delhi dengan salah satu populasi tunawisma terbesar di India.

"Para tunawisma merupakan yang paling rentan terhadap udara panas, karena mereka tinggal di luar ruangan dan tidak mendapat tempat berteduh yang cukup, air minum, dan akses kesehatan," ujar Chaudry.

Pejabat pemerintah Delhi melaporkan bahwa pihaknya sedang mempersiapkan rencana aksi guna mengurangi dampak cuaca ekstrem seperti gelombang panas kali ini. Rencana aksi tersebut dijadwalkan siap pada 2020 mendatang.

Sementara itu, Lembaga Penanggulangan Bencana Nasional (NDMA) India turut mengeluarkan pedoman pada 2016 terkait rencana aksi pemanasan global seperti yang diterapkan di Ahmedabad. Pedoman tersebut telah diterapkan di belasan negara bagian India.

[Gambas:Video CNN]

Gelombang panas ini kerap terjadi di India pada periode April hingga Juni. (ajw/ayp)