Rekonsiliasi Fatah-Hamas Dibutuhkan untuk Hadapi Israel

CNN Indonesia | Kamis, 27/06/2019 06:20 WIB
Rekonsiliasi Fatah-Hamas Dibutuhkan untuk Hadapi Israel Proses rekonsiliasi Fatah dan Hamas. (AFP PHOTO/SAID KHATIB)
Jakarta, CNN Indonesia -- Di samping proses perundingan damai dengan Israel yang terhenti, Palestina juga mengalami masalah di dalam negeri. Persoalan itu adalah pertikaian antara dua kelompok politik besar, Fatah dan Hamas.

Sampai saat ini kedua belah pihak masih berseteru, meski proses musyawarah sudah digelar berkali-kali. Kedua faksi telah berselisih sejak 2007 silam.
"Presiden Palestina, Mahmud Abbas sangat ingin menyampaikan silaturahmi yang bisa dilakukan dari Fatah ke Hamas dan Hamas ke Fatah, sehingga banyaklah proses-proses rekonsiliasi yang bisa dilakukan," kata Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Zuhair Al Shun, dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (26/6).

"Presiden sendiri ingin permasalahan tersebut selesai dan kita bisa bersatu kembali dari segala sisi," tambahnya.


Zuhair ada banyak negara tetangga di kawasan Arab yang memberikan bantuan guna menyelesaikan konflik dua faksi yang telah berjalan lebih dari satu dekade tersebut.

Pemerintah Palestina, kata Zuhair, ingin menyelesaikan permasalahan Hamas dan Fatah agar bisa menghadapi Israel di meja perundingan.
Fatah merupakan pendukung pemerintah Palestina di Tepi Barat sedangkan rivalnya, Hamas menguasai Jalur Gaza. Keduanya berbeda pandangan dalam menyikapi perlawanan terhadap Israel.

Fatah menolak perlawanan bersenjata dengan pihak Israel. Sementara, Hamas tetap bersikap keras terhadap Israel dan menolak keberadaan negara itu.

Hamas bahkan kerap kali meluncurkan roket ke wilayah Israel.

Kedua kubu sempat berdamai melalui mediasi oleh Mesir pada Oktober 2017 lalu. Hamas bahkan melunak dan berencana menyerahkan Jalur Gaza ke Fatah.
Meskipun begitu, kesepakatan damai itu tetap menjadi wacana dan hingga kini berakhir dengan ketidakjelasan. (ajw/ayp)