Wakil Presiden Asosiasi Sepak Bola Palestina (PFA), Susan Shalabi, menuturkan leg final Palestina Cup seharusnya digelar pada Rabu (3/7) kemarin antara Khadamat Rafah dan Balata FC dari Tepi Barat.
Sementara itu, dikutip AFP, seorang pejabat Khadamat Rafah. Hodaifa Lafi, mengecam langkah Israel tersebut. Dia menuturkan mereka hanya sebuah tim olahraga dan bukan sesuatu yang patut ditakuti.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia juga mengutarakan kekecewaannya terhadap Asosiasi Sepak Bola Dunia (FIFA). Menurutnya, FIFA gagal menjalankan aturannya sendiri karena tidak melakukan tindakan tegas terhadap langkah Israel tersebut.
"Cara FIFA berurusan dengan Israel mendorong mereka (Israel) bertindak layaknya kebal hukum," kata Shalabi.
COGAT menegaskan pihaknya memutuskan menolak setelah mempertimbangkan pengajuan izin berpergian tersebut "dengan hati-hati".
Badan itu juga berdalih bahwa pengajuan izin bepergian tim sepak bola Palestina itu diajukan setelah melewati batas waktu yang ditentukan.
"Aplikasi tersebut dikirim setelah waktu yang ditentukan oleh karena itu melakukan proses penilaian yang tepat dan sesuai pedoman jelas tidak mungkin dilakukan," bunyi pernyataan COGAT.
"COGAT tetap berupaya semaksimal mungkin di luar kewajibannya dan dengan hati-hati meninjau serta mempertimbangkan aplikasi izin tersebut."
[Gambas:Video CNN]
Leg pertama final Palestina Cup antara Khadamat Rafah-Balata FC pada akhir pekan lalu berakhir dengan skor 1-1.
Insiden ini bukan yang pertama kali terjadi pada gelaran Palestina Cup. Perihal izin berpergian pemain sepak bola kerap menjadi kendala turnamen ini setiap tahunnya.
Tepi Barat dan Jalur Gaza merupakan wilayah Palestina yang terpisah oleh wilayah Israel. Karena itu, setiap warga Palestina dari Jalur Gaza ingin berpergian ke Tepi Barat atau sebaliknya harus mendapat izin dari Israel. (rds/ayp)