Seperti dilansir AFP, Senin (15/7), kepolisian Prancis menembakkan gas air mata untuk membubarkan para demonstran yang berkumpul di jalanan Champs Elysees, Paris.
Sejumlah jalan utama di pusat kota Paris akhirnya dibuka kembali untuk lalu lintas sesaat setelah parade selesai. Namun, ratusan demonstran dari kelompok masyarakat yang bersatu dalam gerakan Rompi Kuning terus mencoba menduduki wilayah tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para demonstran juga terus melawan polisi. Banyak dari mereka yang melemparkan sejumlah benda ke arah polisi, mencemooh mereka, serta membakar tempat sampah.
Sebelumnya, informasi dari kepolisian Prancis dan pengadilan menyatakan bahwa sekitar 152 demonstran beserta pemimpin mereka dari kelompok Rompi Kuning telah ditahan di dekat Champs Elysees akibat mencoba melakukan aksi protes.
Kementerian Dalam Negeri Perancis menyebut di seluruh negeri jumlah demonstran hanya 12.500 orang di hari terakhir aksinya. Jumlah ini merupakan yang terendah sejak gerakan Rompi Kuning ini dimulai.
Pada puncaknya di bulan November 2018, pemrotes mencapai lebih dari 300.000 orang secara nasional.
Protes berkepanjangan ini dimulai dengan menentang kenaikan pajak. Tuntutan itu disebut menghambat jadwal reformasi Macron.
Meskipun Macron memperkenalkan langkah-langkah lain bernilai lebih dari 10 miliar euro (US$ 11 miliar) untuk meningkatkan daya beli warga berpenghasilan rendah, protes dan kerusuhan 'Rompi Kuning' tetap berlanjut di seluruh negeri.
[Gambas:Video CNN]
Saat ia merayakan ulang tahun keduanya di kursi kepresidenan, Macron bulan lalu menawarkan lebih banyak pemotongan pajak senilai 5 miliar euro, bersama dengan langkah-langkah lainnya. (ajw/ayp)