Massa Rompi Kuning Prancis Kembali Rusuh di Paris

CNN Indonesia | Senin, 15/07/2019 12:10 WIB
Massa Rompi Kuning Prancis Kembali Rusuh di Paris Bentrokan antara massa gerakan Rompi Kuning dan polisi Prancis di Kota Paris. (Alain JOCARD / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Massa gerakan Rompi Kuning kembali melakukan unjuk rasa di Ibu Kota Paris, Prancis sambil memperingati Hari Bastille pada Minggu (14/7). Namun, aksi demonstrasi itu berujung ricuh.

Seperti dilansir AFP, Senin (15/7), kepolisian Prancis menembakkan gas air mata untuk membubarkan para demonstran yang berkumpul di jalanan Champs Elysees, Paris.
Hal ini dilakukan beberapa jam setelah Presiden Emmanuel Macron memimpin parade militer memperingati Hari Bastille bersama dengan para pemimpin Eropa lainnya.

Sejumlah jalan utama di pusat kota Paris akhirnya dibuka kembali untuk lalu lintas sesaat setelah parade selesai. Namun, ratusan demonstran dari kelompok masyarakat yang bersatu dalam gerakan Rompi Kuning terus mencoba menduduki wilayah tersebut.


Stasiun televisi BFM juga memperlihatkan sejumlah gambar di mana pihak kepolisian sedang melepaskan gas air mata guna membubarkan aksi demonstran. Namun, masih ada sejumlah demonstran yang mencoba mengadang jalanan dengan barikade besi, tempat sampah, serta puing-puing lainnya.

Para demonstran juga terus melawan polisi. Banyak dari mereka yang melemparkan sejumlah benda ke arah polisi, mencemooh mereka, serta membakar tempat sampah.

Sebelumnya, informasi dari kepolisian Prancis dan pengadilan menyatakan bahwa sekitar 152 demonstran beserta pemimpin mereka dari kelompok Rompi Kuning telah ditahan di dekat Champs Elysees akibat mencoba melakukan aksi protes.
Gerakan ini diketahui memprotes gaya hidup mewah dan sejumlah kebijakan tak populer Macron.

Kementerian Dalam Negeri Perancis menyebut di seluruh negeri jumlah demonstran hanya 12.500 orang di hari terakhir aksinya. Jumlah ini merupakan yang terendah sejak gerakan Rompi Kuning ini dimulai.

Pada puncaknya di bulan November 2018, pemrotes mencapai lebih dari 300.000 orang secara nasional.

Protes berkepanjangan ini dimulai dengan menentang kenaikan pajak. Tuntutan itu disebut menghambat jadwal reformasi Macron.

Meskipun Macron memperkenalkan langkah-langkah lain bernilai lebih dari 10 miliar euro (US$ 11 miliar) untuk meningkatkan daya beli warga berpenghasilan rendah, protes dan kerusuhan 'Rompi Kuning' tetap berlanjut di seluruh negeri.

[Gambas:Video CNN]

Saat ia merayakan ulang tahun keduanya di kursi kepresidenan, Macron bulan lalu menawarkan lebih banyak pemotongan pajak senilai 5 miliar euro, bersama dengan langkah-langkah lainnya. (ajw/ayp)