Toko Senjata Bakal Buka Gerai Baru, Warga Selandia Baru Marah

CNN Indonesia | Jumat, 19/07/2019 04:39 WIB
Toko Senjata Bakal Buka Gerai Baru, Warga Selandia Baru Marah Masjid Linwood di Kota Christchurch, Selandia Baru yang menjadi salah satu lokasi teror penembakan. (ANTARA FOTO/Ramadian Bachtiar)
Jakarta, CNN Indonesia -- Toko senjata api, Gun City, di Selandia Baru berencana membuka cabang di Kota Christchurch, yang menjadi lokasi teror penembakan dua masjid pada 15 Maret lalu. Hal itu membuat warga setempat berang karena di gerai itulah pelaku teror, Brenton Harrison Tarrant, membeli senjata untuk melakukan aksi keji yang merenggut nyawa 51 orang.

Toko baru Gun City itu rencananya akan mulai beroperasi pada Agustus mendatang. Banyak warga setempat merasa keberatan dan menentang pembukaan toko baru senjata api itu.
"Saya tidak yakin akan banyak orang yang merasa nyaman untuk memiliki senapan di sekitar rumah mereka di wilayah perumahan," ujar seorang warga bernama Harry Singh.

Letak pembukaan cabang baru Gun City hanya berjarak satu kilometer dari tempat penarikan senjata yang dilakukan pemerintah Selandia Baru.


Dilansir dari Reuters, Kamis (18/7), David Tipple yang merupakan pemilik Gun City mengatakan pada Maret lalu bahwa Tarrant memang sempat membeli empat senjata semi-otomatis beserta amunisinya antara Desember 2017 hingga Maret 2018 dari tokonya.

Tipple juga meminta maaf jika sejumlah warga merasa terganggu dengan pembukaan toko barunya itu. Namun, mereka beralasan ingin memperkenalkan sisi positif dari senjata api kepada orang-orang.
Tarrant kini sedang menjalani persidangan atas perbuatannya. Dia mengaku tidak bersalah atas 92 dakwaan terhadap dirinya terkait penyerangan di Christchurch, termasuk soal dakwaan terorisme.

Usai insiden teror penembakan, pemerintah Selandia Baru yang dipimpin Perdana Menteri Jacinda Ardern mengubah undang-undang kepemilikan senjata pada April lalu.

Sesuai dengan UU tersebut, pemerintah melarang peredaran dan penggunaan senjata semi-otomatis seperti yang digunakan Tarrant, kemudian melarang peredaran alat-alat untuk mengubah senjata api menjadi semi-otomatis, majalah yang berisi informasi tentang senjata, serta beberapa jenis senapan lainnya.

Pemerintah setempat juga telah mengalokasikan sekitar US$139 juta atau sekitar Rp 1,9 trilliun guna melakukan pembelian kembali senjata dari para penduduk.

[Gambas:Video CNN]

Hingga pekan lalu, polisi berhasil menarik 224 senjata api milik warga. Sekitar 22 kegiatan sejenis juga akan dilakukan pekan ini.

Menurut laporan Small Arms Survey, Selandia Baru berada di urutan 17 dunia dalam hal kepemilikan senjata oleh penduduk sipil. Dari total lima juta penduduk, sekitar 1,5 juta warga Selandia Baru menyimpan senjata api di rumahnya. (ajw/ayp)