Nasib Tunisia Setelah Kepergian Presiden Essebsi

CNN Indonesia | Sabtu, 27/07/2019 12:47 WIB
Nasib Tunisia Setelah Kepergian Presiden Essebsi Ilustrasi. Tunisia mempersiapkan pemilu mendatang setelah kepergian Presiden Beji Caid Essebsi pada Kamis (26/7) lalu. (Foto: REUTERS/Zoubeir Souissi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tunisia memiliki waktu kurang dari dua bulan untuk mempersiapkan pemilu usai wafatnya Presiden Beji Caid Essebsi pada Kamis (25/7) lalu.

Hanya dalam beberapa jam usai wafatnya Essebsi, Ketua Parlemen Tunisia Mohamed Ennaceur dilantik sebagai presiden sementara. Melansir AFP, sesuai dengan undang-undang, Ennaceur memiliki waktu 90 hari untuk mempersiapkan pemilihan presiden mendatang.

Komisi pemilihan setempat mengatakan, kemungkinan jajak pendapat akan digelar pada 15 September 2019 mendatang. Jajak pendapat dilakukan dua bulan lebih awal dari yang direncanakan sebelumnya.


Wafatnya Essebsi terjadi di tengah perdebatan terkait siapa yang akan maju pada pemilu mendatang. Hal itu juga memicu kekhawatiran akan adanya kerusuhan politik setelah pecahnya pemberontakan Arab Spring.

Sejak pecahnya Arab Springs, Tunisia menjadi satu-satunya negara yang mendorong reformasi demokratis. Reformasi dilakukan setelah kerusuhan politik, kelesuan ekonomi, dan serangan kelompok jihad yang menimpa negara di Afrika Utara tersebut.

Terlepas dari peristiwa delapan tahun pecahnya Arab Springs, Tunisia akan tetap melaksanakan pemilihan presiden yang dijadwalkan pada Oktober mendatang.

"Negara ini akan melanjutkan fungsinya," ujar Ennaceur yang sementara menjabat.

Essebsi merupakan kepala negara yang dipilih melalui jajak pendapat nasional. Dia wafat pada usia 92 tahun.

Surat kabar setempat turut menyampaikan penghormatan terakhirnya untuk Essebsi yang dijuluki sebagai 'bapak konsensus'. Duka juga turut diiringi dengan pembatalan sejumlah festival bersamaan dengan pernyataan pemerintah tujuh hari berkabung kepada seluruh masyarakat Tunisia.

Jenazah Essebsi dibawa ke Istana Kepresidenan yang berdekatan dengan Carthage dari rumah sakit militer Tunis pada Jumat (26/7) untuk selanjutnya disemayamkan. Upacara pemakaman Essebsi dilaksanakan pada Sabtu (27/7) waktu setempat dan akan dihadiri sejumlah kepala negara.

Wafatnya Essebsi turut mendapat perhatian negara tetangga, termasuk Prancis yang memuji peran Essebsi dalam transisi demokrasi Tunisia. Negara tetangga seperti Algeria dan Mauritania juga turut berkabung selama tiga hari.

"Rasa sakit kami luar biasa, rasa sedih kami luar biasa," tulis salah satu surat kabar harian Prancis, Le Temps.

[Gambas:Video CNN]
(ajw/asr)