Hanya dalam beberapa jam usai wafatnya Essebsi, Ketua Parlemen Tunisia Mohamed Ennaceur dilantik sebagai presiden sementara. Melansir AFP, sesuai dengan undang-undang, Ennaceur memiliki waktu 90 hari untuk mempersiapkan pemilihan presiden mendatang.
Komisi pemilihan setempat mengatakan, kemungkinan jajak pendapat akan digelar pada 15 September 2019 mendatang. Jajak pendapat dilakukan dua bulan lebih awal dari yang direncanakan sebelumnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejak pecahnya Arab Springs, Tunisia menjadi satu-satunya negara yang mendorong reformasi demokratis. Reformasi dilakukan setelah kerusuhan politik, kelesuan ekonomi, dan serangan kelompok jihad yang menimpa negara di Afrika Utara tersebut.
Terlepas dari peristiwa delapan tahun pecahnya Arab Springs, Tunisia akan tetap melaksanakan pemilihan presiden yang dijadwalkan pada Oktober mendatang.
Essebsi merupakan kepala negara yang dipilih melalui jajak pendapat nasional. Dia wafat pada usia 92 tahun.
Surat kabar setempat turut menyampaikan penghormatan terakhirnya untuk Essebsi yang dijuluki sebagai 'bapak konsensus'. Duka juga turut diiringi dengan pembatalan sejumlah festival bersamaan dengan pernyataan pemerintah tujuh hari berkabung kepada seluruh masyarakat Tunisia.
Jenazah Essebsi dibawa ke Istana Kepresidenan yang berdekatan dengan Carthage dari rumah sakit militer Tunis pada Jumat (26/7) untuk selanjutnya disemayamkan. Upacara pemakaman Essebsi dilaksanakan pada Sabtu (27/7) waktu setempat dan akan dihadiri sejumlah kepala negara.
"Rasa sakit kami luar biasa, rasa sedih kami luar biasa," tulis salah satu surat kabar harian Prancis, Le Temps.
[Gambas:Video CNN]
(ajw/asr)