Pemerintah dan Oposisi Venezuela Berunding Lagi di Barbados

CNN Indonesia | Kamis, 01/08/2019 21:00 WIB
Pemerintah dan Oposisi Venezuela Berunding Lagi di Barbados Ilustrasi. (AFP Photo/Juan Barreto)
Jakarta, CNN Indonesia -- Utusan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, dan pemimpin oposisi Juan Guaido melanjutkan kembali perundingan untuk mencari jalan keluar atas krisis politik yang terjadi di negara itu. Negosiasi kembali digelar di Barbados.

"Kami melanjutkan tahap perundingan menggunakan mekanisme Oslo," kata juru runding kubu Guaido, Stalin Gonzalez, seperti dilansir AFP, Kamis (1/8).
Sedangkan Maduro mengutus Wakil Presiden Delcy Rodriguez ke Barbados untuk berunding dengan kubu Guaido. Dalam pembicaraan tiga pekan lalu, kedua kubu sepakat merancang kerangka perundingan.

Krisis politik di Venezuela terjadi sejak Januari 2019, saat Guaido mendeklarasikan diri sebagai presiden interim. Dia lantas didukung oleh 50 negara.


Guaido menuduh Maduro mencurangi hasil pemilu 2018 yang membuatnya terpilih kembali. Dia mendesak Maduro mundur dan kembali menggelar pemilihan umum.

Sedangkan Maduro menolak desakan mundur dan meminta Guaido berunding. Dia menuduh Amerika Serikat ada di balik 'percobaan kudeta' oleh Guaido.
Hal itu memperburuk kondisi Venezuela yang diterpa krisis ekonomi sejak 2014. Inflasi tak terkendali menyebabkan mereka kekurangan obat-obatan dan makanan. Pelayanan publik pun berantakan.

Kondisi itu membuat seperempat dari 30 juta warga Venezuela semakin melarat. Sedangkan diperkirakan ada 3,3 juta penduduk negara itu yang mengungsi ke negara lain untuk mencari kehidupan yang lebih layak.

Menteri Jadi Buronan AS

Di sisi lain, Badan Penegak Imigrasi AS (ICE) memasukkan Menteri Perindustrian Venezuela, Tareck El Aissami, sebagai buronan. Tareck diduga adalah bandar narkoba kelas dunia.

[Gambas:Video CNN]

"Dia buronan karena kasus perdagangan narkoba. Dalam jabatan sebelumnya, Tareck terlibat dan memiliki sebagian dari sekitar 1 ton narkoba yang dikirim ke Meksiko dan Amerika Serikat," demikian pernyataan ICE.

Pada Maret lalu pemerintah AS mendakwa Tareck dalam kasus perdagangan narkoba dan menghindari sanksi. Jika berhasil ditangkap, maka Tareck terancam dipenjara maksimal 30 tahun. (ayp/ayp)