China Larang Terbang Awak Maskapai Terlibat Demo Hong Kong

CNN Indonesia | Senin, 12/08/2019 08:19 WIB
China Larang Terbang Awak Maskapai Terlibat Demo Hong Kong Ilustrasi pesawat maskapai Cathay Pacific. (Tyrone Siu)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah China menerbitkan aturan baru yang melarang para awak pesawat yang ketahuan terlibat unjuk rasa di Hong Kong untuk berada dalam penerbangan ke negara itu. Mereka juga melarang pesawat komersial yang awaknya mendukung demonstrasi di Hong Kong untuk mendarat atau melintasi ruang udara Negeri Tirai Bambu.

Seperti dilansir AFP, Senin (12/8), Badan Penerbangan Sipil China (CAAC) menerbitkan pengumuman itu pada Jumat (9/8) pekan lalu. Salah satu maskapai besar yang terdampak adalah Cathay Pacific yang bermarkas di Hong Kong.
CAAC mewajibkan Cathay menyerahkan daftar penumpang dan awak pesawat yang menuju China sebelum mengudara. Direktur Eksekutif Cathay Pacific, Rupert Hogg, menyatakan mereka akan mematuhi peraturan itu.

"Operasional Grup Cathay Pacific di China daratan sangat penting bagi bisnis kami. Selain melayani penerbangan langsung ke China, sebagian besar penerbangan menuju Eropa dan Amerika Serikat juga melintasi ruang udara China," kata Hogg.


"Kami akan mematuhi aturan yang ditetapkan CAAC, sama seperti halnya peraturan yang diterbitkan oleh lembaga lain," ujar Hogg.

Cathay menyatakan telah memutuskan memecat dua pegawasi dan menonaktifkan seorang pilot karena diduga terlibat dalam unjuk rasa besar-besaran di Hong Kong selama hampir tiga bulan terakhir.

Menurut Cathay, seorang pilot yang identitasnya dirahasiakan dinonaktifkan pada akhir Juli lalu. Penyebabnya adalah sang pilot diduga ikut dalam demonstrasi yang berakhir bentrok.
Mereka juga menyatakan memecat dua pegawai yang bekerja sebagai kru darat. Menurut laporan media massa setempat, keduanya dituduh membocorkan jadwal penerbangan tim sepakbola kepolisian Hong Kong ke China.

Meski begitu, Ketua Dewan Komisaris Cathay Pacific, John Slosar, berbeda pendapat dengan Hogg. Dia menyatakan membela pegawainya yang dihukum dengan alasan hal itu adalah kebebasan berpendapat.

"Kami tidak berkuasa meminta mereka harus berpikiran sama terhadap sesuatu," kata Slosar.

Aksi unjuk rasa pada akhir pekan lalu juga berakhir dengan bentrokan. Namun, para demonstran kini menerapkan taktik gerilya supaya polisi kerepotan menghadapi mereka.

Para pengunjuk rasa Hong Kong kini menerapkan strategi berpindah-pindah dalam melakukan aksinya. Mereka juga tidak lagi mematok harus berunjuk rasa di pusat kota yang dijaga ketat aparat, tetapi lebih memilih lokasi aksi secara acak dan berpencar supaya tidak mudah dihalau aparat.

[Gambas:Video CNN]

Aksi besar-besaran ini sendiri bermula pada tiga bulan lalu. Awalnya, para demonstran menuntut pemerintah membatalkan pembahasan rancangan undang-undang ekstradisi yang memungkinkan tersangka satu kasus diadili di negara lain, termasuk China.

Para demonstran menganggap sistem peradilan di China kerap kali bias, terutama jika berkaitan dengan Hong Kong sebagai wilayah otonom yang masih dianggap bagian dari daerah kedaulatan Beijing.

Berawal dari penolakan rancangan undang-undang ekstradisi, tuntutan demonstrasi itu pun meluas hingga ingin membebaskan diri dari China. (ayp/ayp)