"Mereka menyuntik kami berkali-kali," ujar Gulbahar Jailova yang sempat ditahan selama lebih dari satu tahun di Xinjiang.
"Kami harus mengeluarkan lengan kami melalui sebuah lubang kecil di pintu. Kami kemudian menyadari bahwa setelah suntikan tersebut, kami tidak mengalami menstruasi lagi," kata wanita berusia 54 tahun itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dilansir Independent, Rabu (14/8), kejadian serupa juga dialami tahanan lainnya bernama Mehrigul Tursun yang berusia 30 tahun. Melalui sebuah wawancara video dengan lembaga pemantau hak asasi manusia Amnesty International di Tokyo, Jepang, Tursun mengaku ketika ia ditahan di kamp pengasingan Xinjiang pada 2017 lalu, ia disuntik dan diberi obat-obatan yang tak diketahui jenisnya.
Tursun yang sekarang tinggal di pengasingan di Amerika Serikat, mengaku setelah disuntik merasa letih dan depresi. Setelah empat bulan kemudian, ia dikeluarkan karena didiagnosa mengalami penyakit mental.
Setelah menjalani pemeriksaan di AS, dokter juga mengkonfirmasi bahwa Tursun memang telah disterilisasi.
Para peneliti juga mengklaim fasilitas di Xinjiang layaknya "kamp-kamp pengasingan selama masa perang" yang perlahan-lahan membunuh budaya setempat.
Di sisi lain, pemerintah China menyebut kamp tersebut sebagai "asrama" disertai dengan pelatihan. Pihaknya juga membantah tuduhan telah menyiksa minoritas Uighur serta menyebut kabar itu adalah palsu.
Sementara banyak bekas tahanan yang mengaku telah disiksa, dipukuli bahkan disengat listrik sebagai hukuman. Mereka juga dipaksa mengkonsumsi daging babi, menjalani pendidikan politik serta menyanyikan lagu-lagu rezim komunis.
[Gambas:Video CNN]
Meski begitu, protes keras masyarakat dunia terhadap China nyatanya tidak memberikan pengaruh apapun. Menurut laporan pekan lalu, pemerintah China diketahui sedang membangun kamp-kamp yang lebih rahasia. (ajw/ayp)