China Tolak Izin 2 Kapal Perang AS yang Ingin Masuk Hong Kong

CNN Indonesia | Rabu, 14/08/2019 11:24 WIB
China Tolak Izin 2 Kapal Perang AS yang Ingin Masuk Hong Kong Ilustrasi kapal perang. (PETER PARKS / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- China menolak permintaan dua kapal perang Amerika Serikat yang ingin mengunjungi Hong Kong. Penolakan ini terjadi ketika AS-China saling mengkritik terkait situasi di Hong Kong yang kian rusuh akibat demonstrasi.

Wakil juru bicara Armada Angkatan Laut AS di Pacific, Komandan Nate Christensen, mengatakan kapal pendarat amfibi USS Green Bay berencana berlabuh di Hong Kong pada Sabtu pekan ini. 


Sementara itu, kapal penjelajah rudal USS Lake Erie akan mengunjungi wilayah bekas jajahan Inggris itu pada September mendatang.


"Namun pemerintah China menolak permintaan kedua kapal untuk berkunjung ke pelabuhan Hong Kong," kata Christensen melalui pernyataan seperti dikutip AFP, Rabu (14/8).

[Gambas:Video CNN]

Christensen mempertanyakan kenapa China menolak permintaan kedua kapal perang AS tersebut. Sementara itu, kapal perang AS terakhir kali mengunjungi Hong Kong yakni pada April lalu.

Penolakan ini berlangsung ketika China dan AS saling perang kata-kata menanggapi demonstrasi di Hong Kong yang telah berlangsung sejak awal Juni lalu dan semakin rusuh.


Para demonstran bahkan melumpuhkan Bandara Internasional Hong Kong, bandara tersibuk kedelapan di dunia, selama dua hari terakhir.

Beijing menuding demonstrasi anti-pemerintah yang telah meluluhlantakkan Hong Kong, salah satu pusat ekonomi di Asia, itu didanai oleh Barat tanpa menunjukkan bukti yang cukup.

Awal bulan ini, China juga menuntut diplomat-diplomat AS di Hong Kong untuk "setop mengintervensi" urusan domestik wilayah otonomi yang berada di bawah kedaulatannya itu.


Penolakan akses masuk bagi kapal perang AS ini bukan yang pertama kali terjadi. China juga sempat menolak permintaan kapal perang AS, USS Wasp, untuk mengunjungi Hong Kong pada September 2018 lalu.

Penolakan itu berlangsung ketika perang dagang antara AS-China tengah memuncak. (rds/dea)