Negosiasi Damai Buntu, AS Sebut Bakal Gencar Serang Taliban

CNN Indonesia | Selasa, 10/09/2019 11:54 WIB
Negosiasi Damai Buntu, AS Sebut Bakal Gencar Serang Taliban Pasukan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di Afghanistan. (Lucas Jackson)
Jakarta, CNN Indonesia -- Amerika Serikat nampaknya bakal semakin gencar melawan kelompok Taliban, selepas rencana pertemuan antara Presiden Donald Trump serta pihak-pihak yang bersengketa di Afghanistan batal dilakukan pada akhir pekan kemarin. Mereka menyatakan kecewa dengan sikap Taliban yang tetap agresif menyerang, dan terakhir menewaskan seorang pasukan AS, di tengah proses perundingan damai.

"Kami jelas tidak akan tinggal diam dan membiarkan mereka (Taliban) seolah seperti akan menang. Itu tidak akan terjadi," kata Komandan Komando Pusat AS, Jenderal Marinir Kenneth McKenzie, kepada awak media di pangkalan udara Baghram, seperti dilansir Reuters, Selasa (10/9).


McKenzie menyadari wilayah kekuasaan Taliban saat ini justru semakin luas, ketimbang saat mereka menyerang Afghanistan pada 2001 silam. Menurut dia, jika AS memilih pasif maka kemungkinan besar mereka akan lebih banyak kehilangan prajurit di medan perang.


Pertemuan rahasia antara Trump, perwakilan pemerintah Afghanistan, serta pemimpin Taliban seharusnya digelar secara rahasia di lokasi peristirahatan kepresidenan AS di Kamp David pada akhir pekan lalu. Namun, kegiatan itu urung dilakukan.

Ketika disinggung apakah AS bakal melakukan serangan besar-besaran terhadap Taliban, dan bekerja sama dengan pasukan khusus Afghanistan, McKenzie mengatakan, "Saya pikir kita membicarakan soal pandangan menyeluruh. Dan apapun sasaran yang ada, yang dianggap sah secara hukum dan tepat secara etika perang, saya pikir kami akan memburu target itu".

Menurut McKenzie, Taliban seolah mempermainkan AS dengan terus menyerang. Menurut dia Taliban keliru dan tidak memperhitungkan dampak yang akan terjadi.


Proses perundingan damai antara AS dan Taliban yang telah berlangsung berbulan-bulan terancam gagal. Padahal, Trump adalah salah satu orang yang mendesak supaya seluruh pasukan AS di Afghanistan ditarik, karena menurut dia perang yang berlangsung selama 18 tahun tidak menguntungkan.

Akan tetapi, setelah kejadian pada pekan lalu, Trump memutuskan membatalkan seluruh dialog dengan Taliban. Trump juga sempat mengusulkan supaya memangkas jumlah pasukan AS di Afghanistan dari 14 ribu menjadi 8,600 orang.

Dampak dari keputusan Trump menghentikan seluruh negosiasi damai dengan Taliban membuat nasib serdadu AS di Afghanistan kini menggantung. Taliban juga lantas mengancam justru AS akan merugi karena membatalkan negosiasi damai itu.

Ketegangan antara AS dan Taliban ini semakin mengkhawatirkan warga sipil Afghanistan, yang kerap menghadapi teror serangan bom bahkan di Ibu Kota Kabul. Mereka juga akan menggelar pemungutan suara pemilihan presiden pada 28 September mendatang.

[Gambas:Video CNN]

Jauh-jauh hari Taliban sudah mengancam akan menyerang tempat pemungutan suara jika pilpres tetap digelar. Bahkan, mereka meminta warga supaya tidak menggunakan hak pilih jika tidak ingin menjadi korban.

"Kami akan mencoba terus bertahan," ujar McKenzie. (ayp/ayp)