Pemimpin Iran Disebut Setujui Serangan Drone ke Kilang Saudi

CNN Indonesia | Kamis, 19/09/2019 19:48 WIB
Pemimpin Iran Disebut Setujui Serangan Drone ke Kilang Saudi Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei, disebut menyetujui serangan pesawat nirawak atau drone negaranya ke kilang minyak milik Arab Saudi pada pekan lalu. (Reuters/leader.ir)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei, dilaporkan menyetujui serangan pesawat nirawak atau drone negaranya ke kilang minyak milik Arab Saudi pada pekan lalu.

Kabar ini pertama kali terungkap dalam laporan pemberitaan CBS News yang mengutip seorang pejabat anonim dari Amerika Serikat.

Tanpa menjabarkan asal informasi tersebut, pejabat itu mengatakan bahwa Khamenei menyetujui serangan tersebut dengan syarat dilancarkan menggunakan cara sedemikian rupa sehingga Iran terlihat tak terlibat.
Menurut pejabat AS itu, indikasi ini terlihat dari sejumlah foto satelit yang menunjukkan Garda Revolusi Iran tengah bersiap melancarkan serangan dari pangkalan angkatan udara Ahvaz.


Maksud pergerakan dari foto itu baru diketahui setelah serangan ke kilang minyak terbesar dunia itu terjadi pekan lalu.

"Kami benar-benar tidak mengantisipasinya," ucap pejabat tersebut kepada CBS News, sebagaimana dikutip Reuters.
Serangan ini memang sangat menggemparkan karena mengakibatkan pengurangan produksi minyak dunia hingga 5 persen.

Tak lama setelah serangan itu, kelompok pemberontak di Yaman, Houthi, langsung mengklaim bertanggung jawab.

Namun, Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, menyatakan bahwa serangan itu tak mungkin datang dari arah Yaman.

Pompeo mengindikasikan Iran merupakan dalang di balik serangan ini karena selama ini Teheran memang mendukung pergerakan Houthi.

[Gambas:Video CNN]
Seorang pejabat AS bahkan mengatakan bahwa mereka sudah memiliki bukti otentik yang menguatkan dugaan Iran sebagai otak di balik serangan tersebut. Mereka akan menunjukkan bukti tersebut di sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pekan depan.

Iran sendiri sudah mengirimkan surat ke AS berisi bantahan atas semua tudingan tersebut. Mereka mengancam akan merespons semua tindakan AS.

Di tengah ketegangan ini, Wakil Presiden AS, Mike Pence, mengatakan bahwa "Kami tidak ingin berperang dengan siapapun, tapi Amerika Serikat siap." (has/has)