Seperti dilansir Reuters, Kamis (19/9), kelompok milisi Taliban menyatakan bertanggung jawab atas ledakan bom itu. Mereka menyatakan menargetkan gedung dinas intelijen setempat.
Menurut sumber di Kementerian Pertahanan Afghanistan, Taliban hendak menyerang pusat pendidikan dan pelatihan badan intelijen Direktorat Keamanan Nasional. Namun, mereka memarkirkan truk berisi bom itu di dekat gerbang rumah sakit.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemarin, Taliban mengancam tenaga pengajar, pelajar, mahasiswa dan pegawai yang bekerja di bidang pendidikan di seluruh Afghanistan untuk tidak mengikuti pemilihan presiden mendatang, jika tidak ingin terluka akibat serangan mereka. Sebab, Taliban sudah bersumpah akan memboikot pilpres sedangkan sejumlah bangunan lembaga pendidikan akan digunakan sebagai tempat pemungutan suara (TPS).
Taliban berencana akan mengganggu proses pilpres dengan menyerang berbagai lokasi TPS di Afghanistan. Ultimatum itu membuat keselamatan para pegawai sekolah yang diminta menjadi petugas TPS terancam.
Taliban sudah bersumpah akan semakin gencar menyerang pemerintah Afghanistan dan pasukan asing untuk menekan masyarakat supaya tidak mengikuti pilpres.
Di sisi lain, proses perundingan Amerika Serikat dan Taliban mandek. Padahal Presiden AS, Donald Trump, sempat ingin mengakhiri peperangan yang sudah berlangsung selama 18 tahun.
[Gambas:Video CNN] (ayp/ayp)