Bom Taliban Meledak Dekat Rumah Sakit, 20 Orang Tewas

CNN Indonesia | Kamis, 19/09/2019 18:42 WIB
Bom Taliban Meledak Dekat Rumah Sakit,  20 Orang Tewas Ilustrasi situasi pasca ledakan bom di Afghanistan. (REUTERS/Mohammad Ismail)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebuah bom diduga milik Taliban yang disembunyikan di dalam sebuah truk meledak di dekat sebuah rumah sakit di Kota Qalat, Provinsi Zabul, Afghanistan. Akibatnya 20 orang meninggal dan 95 orang lainnya terluka dalam peristiwa itu.

Seperti dilansir Reuters, Kamis (19/9), kelompok milisi Taliban menyatakan bertanggung jawab atas ledakan bom itu. Mereka menyatakan menargetkan gedung dinas intelijen setempat.


Menurut sumber di Kementerian Pertahanan Afghanistan, Taliban hendak menyerang pusat pendidikan dan pelatihan badan intelijen Direktorat Keamanan Nasional. Namun, mereka memarkirkan truk berisi bom itu di dekat gerbang rumah sakit.


Menurut seorang anggota legislatif Qalat, Haji Atta Jan Haqbayan, korban akibat ledakan bom itu yaitu sejumlah perempuan, anak-anak, perawat, dan sejumlah pasien rumah sakit. Beberapa korban luka bahkan dalam kondisi kritis, dan jumlahnya masih bisa bertambah.

Kemarin, Taliban mengancam tenaga pengajar, pelajar, mahasiswa dan pegawai yang bekerja di bidang pendidikan di seluruh Afghanistan untuk tidak mengikuti pemilihan presiden mendatang, jika tidak ingin terluka akibat serangan mereka. Sebab, Taliban sudah bersumpah akan memboikot pilpres sedangkan sejumlah bangunan lembaga pendidikan akan digunakan sebagai tempat pemungutan suara (TPS).


Taliban berencana akan mengganggu proses pilpres dengan menyerang berbagai lokasi TPS di Afghanistan. Ultimatum itu membuat keselamatan para pegawai sekolah yang diminta menjadi petugas TPS terancam.

Taliban sudah bersumpah akan semakin gencar menyerang pemerintah Afghanistan dan pasukan asing untuk menekan masyarakat supaya tidak mengikuti pilpres.

Di sisi lain, proses perundingan Amerika Serikat dan Taliban mandek. Padahal Presiden AS, Donald Trump, sempat ingin mengakhiri peperangan yang sudah berlangsung selama 18 tahun.

[Gambas:Video CNN] (ayp/ayp)