Tim penyelidikan yang dibentuk Perdana Menteri Abdalla Hamdok ini terdiri dari tujuh anggota yang terdiri dari perwakilan berbagai kementerian, hakim, kejaksaan, dan anggota independen.
"Ini adalah tim independen yang dibentuk berdasarkan apa yang disebut sebagai deklarasi konstitusional," tulis media pemerintah SUNA, seperti dilansir AFP, Senin (23/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Insiden yang terjadi pada 3 Juni lalu berawal saat sebuah pasukan menyerang para demonstran yang berunjuk rasa di depan markas angkatan bersenjata di Khartoum.
Berdasarkan data yang dihimpun para dokter yang terkait gerakan tersebut, sekitar 127 orang meninggal dan ratusan lainnya terluka dalam kejadian itu. Namun, otoritas mengeluarkan jumlah kematian yang lebih sedikit.
Dewan Militer yang melakukan penyelidikan awal menemukan bahwa unit paramiliter Pasukan Gerak Cepat (RSF) terlibat dalam penembakan tersebut.
Kemudian jaksa yang memimpin penyelidikan menyatakan bahwa seorang jenderal RSF memerintahkan seorang kolonel secara terpisah untuk membubarkan massa. Namun, dilaporkan ternyata tidak ada satu pun perwira tinggi RSF yang memerintahkan hal itu.
Akibat aksi unjuk rasa itu, militer Sudan lantas mengkudeta Omar al-Bashir yang saat itu menjadi presiden. Selepas kudeta sempat terjadi ketegangan antara kelompok sipil dan angkatan bersenjata mengenai pembagian kekuasaan.
Setelah melalui perundingan alot, akhirnya militer dan kelompok sipil Sudan sepakat berbagi kekuasaan. Mereka juga berjanji akan menggelar pemilihan umum terbuka.
[Gambas:Video CNN]
Kini Omar al-Bashir sedang menghadapi proses peradilan terkait dugaan korupsi dan penyalahgunaan wewenang. Dia saat ini ditahan di lokasi yang dirahasiakan. (fls/ayp)