Puluhan Perusahaan China Masuk Daftar Hitam AS Terkait Uighur

CNN Indonesia | Selasa, 08/10/2019 09:24 WIB
Puluhan Perusahaan China Masuk Daftar Hitam AS Terkait Uighur Keseharian Muslim Uighur di Xinjiang. (Greg Baker / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Departemen Perdagangan Amerika Serikat mengumumkan telah memasukkan 28 perusahaan China ke dalam daftar hitam karena diduga terlibat pelanggaran hak warga Uighur dan minoritas Muslim lainnya di wilayah Xinjiang.

Dikutip AFP, Sekretaris Perdagangan Wilbur Ross menyatakan melarang perusahaan tersebut membeli produk-produk AS. Dia mengatakan bahwa AS tidak bisa dan tidak akan mentolerir penindasan brutal terhadap etnis minoritas di China.


Menurut pembaruan dalam Daftar Federal AS yang akan diterbitkan Rabu, perusahaan pengawasan video Hikvision, serta perusahaan-perusahaan intelijen buatan Megvii Technology dan SenseTime masuk dalam daftar tersebut.


Kelompok kanan mengatakan China telah menahan sekitar satu juta warga Uighur dan Muslim lainnya di kamp-kamp pendidikan di wilayah Xinjiang barat, sebuah langkah yang menurut Washington mengingatkan pada Nazi Jerman.

[Gambas:Video CNN]

China selalu menyangkal keberadaan kamp-kamp tersebut. Namun baru-baru mereka mengklaim bahwa kamp itu merupakan "sekolah kejuruan" yang diperlukan untuk mengendalikan terorisme, sambil mengecam pihak yang campur tangan dalam urusan internal.

Sebelumnya Washington juga memasukkan raksasa teknologi Huawei dan perusahaan China lainnya ke dalam daftar hitam, di tengah perang dagang kedua negara.


Dugaan pelanggaran HAM terhadap etnis Uighur menjadi sorotan internasional setelah Amnesty International merilis laporan pada 2018 lalu. Mereka menyatakan bahwa China telah menahan satu juta etnis minoritas Uighur, Kazakh dan lainnya di sejumlah penampungan layaknya kamp konsentrasi.

Di sana, para tahanan dilaporkan didoktrin supaya mengamalkan ideologi komunis dan menanggalkan identitas kesukuan mereka. Tak hanya itu, otoritas China juga disebut mengekang hak-hak masyarakat Xinjiang untuk beribadah.


China membantah tuduhan itu dengan berdalih bahwa kamp-kamp itu merupakan kamp pelatihan, di mana para etnis Uighur itu diberikan serangkaian pendidikan keterampilan untuk memberdayakan mereka. (dea)