ISIS dan Rentetan Aksi Teror Penikaman di Dunia

CNN Indonesia | Kamis, 10/10/2019 15:38 WIB
ISIS dan Rentetan Aksi Teror Penikaman di Dunia Ilustrasi ISIS. (Laudy Gracivia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Seorang pria tak dikenal menyerang Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan, Wiranto, dengan senjata tajam di Pandeglang, Banten, pada Kamis (10/10) siang.

Kepolisian menduga pelaku berinisial FD dari Jawa Tengah itu terpapar ideologi kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), meski aparat masih menyelidiki motif penikaman.

Jika pelaku tersebut terkonfirmasi terpapar ideologi ISIS, ini akan menjadi insiden teror penikaman pertama yang menyasar pejabat tinggi Indonesia.


Meski begitu, motif teror penikaman yang dilakukan simpatisan atau pengikut ISIS seorang diri (lone wolf) berulang kali terjadi di luar negeri.


Selain menggunakan bom bunuh diri, simpatisan ISIS memang kerap menebarkan aksi teror mereka dengan cara menabrakkan kendaraan dan menggunakan senjata tajam.

Melalui majalah propaganda ISIS, Rumiyah, sekitar 2016 lalu, kelompok teror itu mengatakan kepada pengikutnya bahwa "berjihad" tidak selalu harus bermodal rencana yang panjang dan alat-alat yang sulit seperti bom.

Saat itu, organisasi teroris pimpinan Abu Bakr Al-Baghdadi itu mengatakan dengan modal senjata tajam dan target biasa para simpatisan sudah bisa ikut "berjihad".

Sejak itu, serangan teror di sejumlah negara Barat berkembang, tak hanya berbentuk pengeboman tapi juga penikaman dan penabrakan yang dilakukan oleh segelintir orang secara terpisah dan sporadis.

Berikut beberapa aksi penikaman yang pelakunya terinspirasi ideologi ISIS yang terjadi selama beberapa tahun terakhir.

[Gambas:Video CNN]

1. Prancis

Serangkaian peristiwa penusukan terinspirasi ISIS beberapa kali terjadi di negara Eropa Barat itu. Pada 2016, seorang pria diduga pengikut ISIS menikam seorang polisi bersama istrinya hingga tewas di sebuah rumah di pinggiran Magnanville, Paris.

Polisi mengidentifikasi pelaku bernama Larossi Abballa berusia 25 tahun dan berbaiat kepada ISIS. Ia didakwa pernah merekrut sejumlah orang untuk dikirim ke Pakistan.

Di tahun yang sama, penikaman juga terjadi di sebuah gereja di Normandy. Dua pria menerobos masuk gereja ketika tengah menghelat misa dan menyandera lima orang di dalamnya. Kedua pelaku yang menyatakan diri sebagai pengikut ISIS menikam seorang pendeta hingga tewas dalam insiden tersebut.

Kelompok ISIS mengaku bertanggung jawab terhadap penikaman dua perempuan di stasiun kereta di Marseille, Prancis pada Oktober 2017.

Pelaku, yang diduga berusia 30 tahunan, ditembak mati oleh tentara yang sedang menjalankan operasi Sentinelle untuk mengamankan kawasan publik dan objek vital lainnya di Prancis.
2. Australia

Pada 2018 lalu, seorang pria menusuk tiga orang di sebuah pusat distrik bisnis di Melbourne hingga menewaskan satu orang. Kepolisian Victoria menganggap peristiwa itu sebagai aksi teror dan sang pelaku tewas saat hendak ditangkap.

Sang pelaku diketahui bernama Hassan Khalif Shire Ali, yang merupakan imigran asal Somalia yang pindah ke Australia pada 1990-an. Kepolisian Australia menuturkan paspor Ali sempat ditahan pada 2015 lalu karena diduga berencana pergi ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS.

Ali juga sempat ditahan pada November 2017 lalu karena merencanakan penembakan massal di malam tahun baru.


3. Chechnya

Kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) mengklaim bertanggung jawab atas serangan penikaman terhadap seorang polisi di dekat kediaman pemimpin Chechnya, Ramzan Kadyrov, pada 23 Juni lalu. Hal ini menjadi serangan ke sekian kali di wilayah Rusia itu.

Seorang pria dilaporkan menikam seorang perwira polisi dan seorang perwira pengawal nasional di dekat kediaman Kadyrov, pemimpin daerah otonomi Chechnya.

Sebelum melakukan penikaman, pelaku dikabarkan sempat dihentikan petugas saat mengemudi di dekat kediaman Kadyrov.

Sedikitnya 11 orang tewas termasuk ketiga pelaku dan 48 orang lainnya terluka dalam insiden itu. (rds/ayp)