Uskup-uskup Katolik Restui Pria Menikah jadi Imam di Amazon

CNN Indonesia | Minggu, 27/10/2019 13:39 WIB
Uskup-uskup Katolik Restui Pria Menikah jadi Imam di Amazon Vatikan. (CNN Indonesia/Ervina Anggraini).
Jakarta, CNN Indonesia -- Mayoritas uskup Katolik merestui pria menikah menjadi imam di gereja-gereja di sebagian kawasan Amazon. Restu itu tertuang dalam pemungutan suara yang dilakukan di Vatikan, Sabtu (26/10).

Pemungutan suara tersebut menghasilkan persetujuan dari 128 uskup. Hanya 41 uskup yang menolak proposal.

Ini merupakan tonggak sejarah bagi Gereja Katolik yang selama berabad-abad lamanya menjaga tradisi imam dilakukan oleh pria-pria yang tidak pernah menikah.

Namun demikian, patut dicatat, kepemimpinan pria-pria menikah sebagai imam Gereja Katolik hanya akan berlaku di wilayah Amazon yang memang kekurangan pemimpin, seperti Bolivia, Brasil, Kolombia, Ekuador, Guyana Prancis, Peru, Suriname, dan Venezuela.

Paus Fransiskus, pemimpin tertinggi Katolik disebut akan merestui hasil pemungutan suara dan dijadwalkan secara simbolik memulai penerapan aturan baru tersebut.

Proposal yang diberi nama 'viri probati' merujuk pada pria-pria Katolik yang cenderung berusia lebih tua, memiliki keluarga yang dihormati dalam komunitas mereka, atau pun sudah ditahbiskan sebagai tokoh di gereja sebelumnya.

Tetapi, bukan berarti Vatikan mengizinkan uskup-uskup Katolik untuk menikah. Ini berarti, perubahan aturan tidak akan mempengaruhi aturan bagi para uskup Katolik.

Meskipun Gereja Katolik saat ini hanya mengangkat pria yang belum menikah menjadi uskup, namun beberapa orang yang baru masuk agama Katolik, dari Anglikan, misalnya, ternyata juga dapat menjadi pendeta Katolik. Meskipun, kalau mereka sudah menikah.

Usulan ini disebut sebagai salah satu rekomendasi paling kontroversial yang disetujui oleh Vatikan, setelah melakukan perundingan selama tiga minggu untuk membahas masalah lingkungan dan agama yang mempengaruhi wilayah Amazon.

Pada perundingan itu, Vatikan mengundang 184 uskup dan pendeta dari wilayah Amazon dan di seluruh dunia untuk pertemuan khusus yang dikenal sebagai sinode. Terdapat tiga puluh lima wanita, kebanyakan saudara perempuan dan biarawati juga turut diundang, namun mereka tidak memiliki hak suara.

Beberapa pihak merekomendasikan untuk terus mempelajari kemungkinan mengangkat perempuan sebagai diaken atau jawatan pelayanan dalam Gereja Katolik, namun komisi yang dibentuk oleh Francis pada tahun 2016 lalu untuk mengurusi hal tersebut belum menghasilkan jawaban yang konklusif.
[Gambas:Video CNN]


(ara/bir)