Ungguli Petahana, Alberto Fernandez Menang Pilpres Argentina

CNN Indonesia | Senin, 28/10/2019 09:46 WIB
Ungguli Petahana, Alberto Fernandez Menang Pilpres Argentina Calon presiden Alberto Fernandez memimpin perolehan suara Pilpres Argentina. (AP Photo/Gustavo Garello)
Jakarta, CNN Indonesia -- Calon presiden Alberto Fernandez memimpin perolehan suara Pilpres Argentina yang digelar Minggu (27/10).

Fernández berhasil mengungguli petahana Mauricio Macri dengan perolehan 47,48 persen suara. Macri yang berasal dari konservatif itu meraup 41,08 persen.
Dengan hasil itu, Fernandez dipastikan menang tanpa perlu pemungutan suara putara kedua.

Setelah tempat pemungutan suara ditutup, Alberto Fernandez langsung merangkul kekasih. Pendukungnya pun langsung bersorak.



Dia kemudian menyapa para pendukung yang berkumpul di luar gerbang apartemen. "Alberto presidente!" teriak para pendukung. Sementara ratusan orang yang berkumpul di kantor pemenangan mengibarkan bendera Argentina.

"Saya sangat senang. Kami menunggu perubahan ini sejak lama. Kami lelah dengan semua yang telah terjadi," kata salah satu pendukung Juan Jose De Antonio, dikutip dari Associated Press.

Pilpres ini digelar di tengah anjloknya sektor perekonomian Argentina. Para pemilih Fernandez diyakini adalah orang-orang yang kecewa dengan kinerja Macri dalam menangani krisis ekonomi.

[Gambas:Video CNN]

Akan tetapi, terpilihnya Fernández dikhawatirkan akan mengembalikan Argentina ke arah Peronis berhaluan kiri.

Macri terpilih sebagai presiden pada 2015 mengalahkan Cristina Fernandez. Kini Cristina Fernandez maju kembali menjadi calon wakil presiden mendampingi Alberto Fernandez.


Kemenangan Fernandez menjadi sinyal referendum pinjaman pemerintah dari Dana Moneter Internasional (IMF) dan penghematan belanja yang dilakukan sebagai syarat pinjaman tersebut.

Sebelumnya Macri juga kalah di pemilu pendahuluan. Kala itu pelaku pasar khawatir, sebab Macri merupakan sosok pro bisnis sedangkan Fernandez cenderung lebih sosialis.


Sejatinya, popularitas Macri sudah anjlok setelah Argentina mengalami krisis mata uang tahun lalu, di mana nilai tukar peso sempat anjlok 50 persen.

Kemudian, Macri juga dikritik karena melakukan kebijakan pengetatan anggaran yang mengecewakan rakyat Argentina karena daya belinya ikut tergerus. Kebijakan ini berujung pada penarikan dana bantuan IMF sebesar US$56 miliar, yang dinilai analis harus segera direstrukturisasi. (dea)