Pemerintahan Masih Buntu, Netanyahu dan Rival Bahas Koalisi

CNN Indonesia | Senin, 28/10/2019 19:59 WIB
Pemerintahan Masih Buntu, Netanyahu dan Rival Bahas Koalisi Benjamin Netanyahu dan Benny Gantz bertemu untuk membicarakan pembentukan koalisi setelah pemilu Israel menunjukkan hasil imbang antara kedua calon PM. (AFP Photo/Gali Tibbon)
Jakarta, CNN Indonesia -- Benjamin Netanyahu dan rivalnya, Benny Gantz, bertemu untuk membicarakan kemungkinan membentuk koalisi setelah pemilihan umum Israel menunjukkan hasil imbang antara kedua calon perdana menteri.

"Mereka berdiskusi tentang pilihan struktur politik yang tersedia. Keduanya telah menantikan pertemuan lebih lanjut dan akan terus berkomunikasi," demikian pernyataan bersama partai pimpinan Netanyahu, Likud, dan koalisi penyokong Gantz, Biru dan Putih.

Koalisi Biru dan Putih kemudian menyatakan bahwa pertemuan antara perwakilan negosiator dari kedua partai berlangsung dengan baik.
Pertemuan kedua calon perdana menteri itu merupakan yang pertama kalinya sejak Presiden Reuven Rivlin menginstruksikan Gantz membentuk pemerintahan baru.


Sang presiden memerintahkan Gantz setelah Netanyahu gagal membentuk pemerintahan dan otomatis menyerahkan proses selanjutnya kepada Gantz.

Partai Likud dan koalisi Biru dan Putih sebenarnya sudah mengungkapkan keinginannya untuk membentuk pemerintahan gabungan. Namun, mereka berselisih pandangan mengenai cara pembentukannya.
Dikutip Associated Press, Netanyahu ingin ada sekutu dari kalangan agama dan nasionalis untuk bergabung dengan aliansi Likud serta Biru dan Putih.

Gantz tak masalah dengan keinginan tersebut. Namun, mereka menolak salah satu usulan yang ditawarkan Rivlin.

Presiden tersebut menawarkan kompromi khusus bagi Netanyahu, yaitu petahana tersebut masih bisa memegang jabatan sebagai perdana menteri selama kasus korupsi yang menjeratnya masih berjalan. Jika Netanyahu dinyatakan bersalah, Gantz akan mengambil alih kursi PM.

[Gambas:Video CNN]
Namun, Gantz tak sepakat. Menurut Biru dan Putih, Gantz harus menjadi perdana menteri dalam skenario mana pun karena koalisi mereka mendapatkan kursi parlemen lebih banyak, yaitu 33 sementara Likud hanya 32.

Berdasarkan aturan pemilu, seorang calon PM harus mendapatkan pasangan dengan suara cukup sehingga keduanya memegang kursi mayoritas setidaknya 61 kursi dan 120 kursi parlemen yang ada. (fls/has)