Emosi Saat Ajari Anak Matematika, Ibu Kena Serangan Jantung

CNN Indonesia | Jumat, 08/11/2019 12:52 WIB
Emosi Saat Ajari Anak Matematika, Ibu Kena Serangan Jantung Ilustrasi. (Istockphoto/Tharakorn)
Jakarta, CNN Indonesia -- Seorang ibu berusia 36 tahun asal Hubei, China, mengalami serangan jantung saat sedang membantu anak mengerjakan soal matematika. Wanita itu diduga naik pitam karena sang anak tidak kunjung mengerti soal matematika yang ia kerjakan.

Dikutip Asia One, Kamis (7/11), wanita yang hanya diidentifikasi sebagai Wang itu awalnya membantu menjelaskan sebuah soal matematika beserta dengan cara mengerjakan.


Namun setelah berulang kali dijelaskan, anak yang duduk di bangku kelas tiga SD itu masih tidak mengerti dan hal itu membuatnya marah.


"Saya telah menjelaskan kepadanya berkali-kali tetapi ia masih tidak paham. Saya sangat marah hingga bisa meledak. Tiba-tiba, jantung saya berdebar kencang dan saya tidak dapat bernafas dengan baik," katanya kepada media Sin Chew Daily.

[Gambas:Video CNN]

Saat itu juga, Wang menghubungi suami untuk mengantarkannya ke rumah sakit. Dokter dari Rumah Sakit Xinhua, Yang Xiaoxue, kemudian mendiagnosis Wang dengan serangan jantung.

"Dia datang tepat waktu. Dia bisa saja meninggal karena gagal jantung jika terjadi penundaan," ujar Yang.

Sang dokter menjelaskan bahwa pola makan yang tidak sehat dan stres menjadi penyebab terbesar dari munculnya serangan jantung di kalangan pasien berusia muda seperti Wang.


Wang sempat menuturkan ia mengaku sering kesal dengan anaknya ketika membantu pekerjaan rumah anaknya tetapi ia tidak menyangka bahwa kejadian itu dapat menimbulkan risiko yang serius.

Terkait kejadian tersebut, psikolog asal Hong Kong, Florence Huang mengatakan para orangtua perlu belajar mengendalikan diri karena emosi negatif seperti stres dan kemarahan memengaruhi kesehatan orangtua dan memiliki dampak buruk pada anak.


"Ketika keadaan di rumah mengalami kemarahan dan agresi secara berkepanjangan, harga diri anak-anak bisa saja terpengaruh hingga menimbulkan perilaku menyalahkan diri sendiri dan perasaan malu, penghinaan dan ketidakberdayaan," katanya. (fls/dea)