Arab Saudi Tuduh Iran Lakukan Penipuan atas Program Nuklir

CNN Indonesia | Rabu, 13/11/2019 09:32 WIB
Arab Saudi Tuduh Iran Lakukan Penipuan atas Program Nuklir Fasilitas nuklir Iran. (HAMED MALEKPOUR / FARS NEWS AGENCY / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kabinet Arab Saudi menuduh Iran telah melakukan penipuan atas program nuklir. Hal itu disampaikan pada sesi kabinet yang diketuai Raja Salman setelah Teheran memutuskan untuk meningkatkan proses pengayaan uranium.

"Sesi kabinet menolak penipuan yang dilakukan Iran secara terus-menerus dan keterlambatan dalam memberikan informasi tentang program nuklir mereka kepada IAEA atau Badan Energi Atom Internasional," kata sebuah pernyataan kepada Saudi Press Agency seperti dikutip AFP, Selasa (12/11).


IAEA yang merupakan pengawas nuklir PBB, dalam laporan yang dikeluarkan Senin menyatakan partikel uranium terdeteksi di sebuah situs Iran dan tidak pernah diumumkan.


Laporan itu juga mengonfirmasi bahwa Iran telah meningkatkan pengayaan uranium, melanggar penjanjian nuklir (JCPOA) pada 2015.

Keputusan Iran tersebut memicu respons dari Uni Eropa. Mereka meminta Iran untuk membatalkan penambahan cadangan dan melanjutkan proses pengayaan uranium tersebut.

[Gambas:Video CNN]

"Kami telah mendesak Iran untuk membatalkan langkah-langkah seperti itu tanpa penundaan dan menahan diri dari berbagai langkah lain yang bisa merusak perjanjian nuklir," kata juru bicara untuk kepala diplomat Uni Eropa Federica Mogherini, Maja Kocijancic.

Ia juga mengingatkan Iran untuk konsisten tetap menjalankan kesepakatan nuklir.

Eropa juga telah berusaha menyelamatkan kesepakatan itu sejak Amerika Serikat secara sepihak menarik diri dari perjanjian tersebut pada Mei 2018 dan kembali menerapkan sanksi untuk Iran.


Setahun setelah AS menarik diri dari JCPOA, Iran mulai mengurangi komitmennya terhadap perjanjian nuklir.

Pekan lalu, Iran melakukan langkah baru dengan menggenjot upaya pengayaan uranium di fasilitas nuklir bawah tanah di Fordo, selatan Teheran. Tahap pengayaan uranium disebut telah memasuki tahap lanjut, yakni menyuntikkan gas uranium hexafluoride ke dalam alat pemisah (centrifuge).

Pada hari Senin, Inggris, Prancis, Jerman dan Uni Eropa mengatakan keputusan Iran untuk memulai kembali kegiatan di Fordow "tidak konsisten" dengan perjanjian nuklir 2015.


Iran, kemudian balik menuduh negara-negara Eropa munafik karena mengkritik Teheran ketika gagal memenuhi komitmen bantuan untuk menghindari sanksi AS. (dea)