AS Sebut Rudal Iran Paling Canggih di Timur Tengah

CNN Indonesia | Rabu, 20/11/2019 10:50 WIB
AS Sebut Rudal Iran Paling Canggih di Timur Tengah Ilustrasi rudal Iran. (AFP Photo/STR)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Pertahanan Amerika Serikat menyatakan Iran berhasil mengembangkan sistem senjata peluru kendali yang paling besar dari yang dimiliki negara-negara Timur Tengah lainnya, termasuk Israel. Pentagon menuturkan pengembangan sistem alat utama sistem pertahanan itu berlangsung meski selama ini Teheran terikat oleh serangkaian sanksi internasional.

"Iran memiliki kekuatan rudal terbesar di Timur Tengah," ucap seorang pejabat intelijen AS yang merujuk pada penelitian yang dilakukan Pentagon.


Menurut Badan Intelijen Pertahanan AS, Iran memiliki program pengembangan rudal yang luas. Kecanggihan sistem rudalnya juga terus berkembang meskipun komunitas internasional telah berupaya menahan kemajuan teknologi mereka selama puluhan tahun melalui serangkaian sanksi.


Penelitian Pentagon itu memaparkan bahwa Iran menganggap sistem rudal sebagai kebutuhan strategis negara lantaran keterbatasan kapabilitas angkatan udaranya.

Menurut Pentagon Iran terus mengembangkan sistem rudal balistik dan mengandalkan itu sebagai kemampuan serangan jarak jauhnya demi mencegah serangan dari musuh-musuh di kawasan terutama AS, Israel, dan Arab Saudi.

Laporan itu memaparkan bahwa Iran telah mengembangkan sejumlah rudal yang dapat mencapai target hingga jarak 2.000 kilometer. Rudal-rudal itu bisa mencapai Israel atau Arab Saudi.

Pada 2017 lalu, Iran juga pernah memamerkan rudal balistik jarak jauh, Khoramshahr, yang bisa membawa banyak hulu ledak. Pentagon menuturkan peluru kendali itu menggunakan teknologi dari Korea Utara.

[Gambas:Video CNN]

Meski sistem rudalnya terus berkembang, Iran tercatat hanya menghabiskan sedikit anggaran negara untuk militernya. Pada 2017, Iran hanya menggelontorkan US$20,7 miliar untuk militernya.

Iran bahkan diprediksi akan semakin meningkatkan pengembangan sistem rudalnya setelah AS keluar dari perjanjian nuklir 2015 dan kembali menjatuhkan serangkaian sanksi terhadap Teheran.

Pakar soal Iran dari Badan Intelijen Pertahanan AS, Christian Saunders, memperingatkan bahwa jika embargo senjata Iran dicabut tahun depan itu akan semakin mempermudah pemerintahan Presiden Hassan Rouhani mengembangkan program senjata negaranya.

"Pembatasan ini akan berakhir Oktober 2020, memberikan Teheran kesempatan untuk memperoleh beberapa kemampuan canggih yang selama ini berada di luar jangkauannya sejak hampir beberapa dekade lalu," ucap Saunders kepada wartawan seperti dikutip AFP, Rabu (20/11).

Sementara itu, seorang pejabat intelijen AS memprediksi Iran juga akan berfokus pada pengadaan jet tempur dan tank untuk memperkuat angkatan bersenjatanya.


Rusia dan China kemungkinan besar menjadi pemasok kebutuhan Iran akan kendaraan tempur tersebut. (rds/ayp)