Peter Handke Dilarang Masuk Kosovo Usai Dapat Nobel

CNN Indonesia | Kamis, 12/12/2019 09:16 WIB
Peter Handke Dilarang Masuk Kosovo Usai Dapat Nobel Pemerintah Kosovo menetapkan status persona non-grata terhadap sastrawan asal Swedia, Peter Handke, karena dianggap pro Serbia. (Jonas Ekstromer/TT News Agency via AP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Kosovo memutuskan menetapkan status persona non-grata terhadap sastrawan asal Austria, Peter Handke. Hal itu dilakukan setelah Handke yang dianggap mendukung kekejaman pasukan Serbia dan penjahat perang, Slobodan Milosevic, dalam konflik di kawasan Balkan pada era 1990-an menerima Hadiah Nobel dalam bidang sastra.

"Hari ini saya menyatakan Peter Handke tidak akan diterima di Kosovo. Dia adalah persona non-grata. Menyangkal kejahatan dan mendukung penjahat adalah kejahatan yang sangat buruk," kata Menteri Luar Negeri Behgjet Pacolli dalam unggahan tulisannya di akun Facebook, seperti dilansir AFP, Kamis (12/12).

Sejumlah negara memutuskan memboikot upacara pemberian Hadiah Nobel yang digelar di Stockholm, Swedia, pada Rabu malam waktu setempat. Perwakilan dari Albania, Bosnia, Kosovo, Kroasia, Macedonia Utara dan Turki absen dalam kegiatan tersebut.


Meski demikian, Handke masih kerap bertandang ke wilayah minoritas etnis Serbia, Velika Hoca, di pegunungan sebelah selatan Kosovo. Lokasi itu adalah salah satu wilayah komunitas Serbia yang tersebar setelah Yugoslavia pecah akibat perang usai keruntuhan Uni Soviet.

Handke bahkan kerap menyumbang uang bagi 500 warga etnis Serbia yang tinggal di Velika Hoca.

Kosovo melepaskan diri dari Yugoslavia melalui peperangan antara etnis Albania dan Serbia pada 1998 sampai 1999. Sebanyak 13 ribu orang meninggal dalam konflik tersebut.

Pemerintah Bosnia juga memutuskan melarang Handke memasuki Ibu Kota Sarajevo. Dikhawatirkan kehadiran Handke bakal memicu kesedihan dan kemarahan para korban perang.

[Gambas:Video CNN]

Akan tetapi, Handke masih diterima di beberapa wilayah Bosnia yang penduduknya mayoritas etnis Serbia.

Slobodan Milosevic adalah salah satu pemimpin Serbia dalam konflik di wilayah Balkan pada 1990-an, usai Uni Soviet runtuh.

Foto Handke yang mengunjungi lokasi pembantaian di Srebrenica, Bosnia setahun setelah kejadian beredar luas. Di dalam foto itu dia terlihat berdiri di depan papan petunjuk kota.

Pada Juli 1995, pasukan Bosnia Serbia membantai sekitar 8000 pemuda dan lelaki Muslim Bosnia di Srebrenica.

Pada 1997, Handke disebut sengaja merekayasa fakta untuk tidak menonjolkan kekejaman pasukan Serbia dalam buku A Journey to the Rivers: Justice for Serbia. Di mata etnis Serbia, Handke sangat populer karena dianggap mampu mengubah narasi bahwa mereka juga menjadi korban dalam perang dan bukan satu-satunya pihak agresor.

Handke juga dikritik saat memberikan pidato dalam upacara penguburan Milosevich pada 2006. Saat itu Milosevich meninggal saat tengah menanti persidangan atas dugaan kejahatan genosida, kejahatan perang, dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Akibat polemik ini, dua anggota komite Nobel mundur pada awal pekan lalu. Seorang sejarawan dan penulis asal Swedia, Peter Englund, menyatakan akan memboikot upacara pemberian Hadiah Nobel pada 10 Desember mendatang. (ayp)