"Hari ini saya menyatakan Peter Handke tidak akan diterima di Kosovo. Dia adalah persona non-grata. Menyangkal kejahatan dan mendukung penjahat adalah kejahatan yang sangat buruk," kata Menteri Luar Negeri Behgjet Pacolli dalam unggahan tulisannya di akun Facebook, seperti dilansir AFP, Kamis (12/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Handke bahkan kerap menyumbang uang bagi 500 warga etnis Serbia yang tinggal di Velika Hoca.
Kosovo melepaskan diri dari Yugoslavia melalui peperangan antara etnis Albania dan Serbia pada 1998 sampai 1999. Sebanyak 13 ribu orang meninggal dalam konflik tersebut.
Pemerintah Bosnia juga memutuskan melarang Handke memasuki Ibu Kota Sarajevo. Dikhawatirkan kehadiran Handke bakal memicu kesedihan dan kemarahan para korban perang.
[Gambas:Video CNN]
Akan tetapi, Handke masih diterima di beberapa wilayah Bosnia yang penduduknya mayoritas etnis Serbia.
Slobodan Milosevic adalah salah satu pemimpin Serbia dalam konflik di wilayah Balkan pada 1990-an, usai Uni Soviet runtuh.
Foto Handke yang mengunjungi lokasi pembantaian di Srebrenica, Bosnia setahun setelah kejadian beredar luas. Di dalam foto itu dia terlihat berdiri di depan papan petunjuk kota.
Pada Juli 1995, pasukan Bosnia Serbia membantai sekitar 8000 pemuda dan lelaki Muslim Bosnia di Srebrenica.
Pada 1997, Handke disebut sengaja merekayasa fakta untuk tidak menonjolkan kekejaman pasukan Serbia dalam buku A Journey to the Rivers: Justice for Serbia. Di mata etnis Serbia, Handke sangat populer karena dianggap mampu mengubah narasi bahwa mereka juga menjadi korban dalam perang dan bukan satu-satunya pihak agresor.
Akibat polemik ini, dua anggota komite Nobel mundur pada awal pekan lalu. Seorang sejarawan dan penulis asal Swedia, Peter Englund, menyatakan akan memboikot upacara pemberian Hadiah Nobel pada 10 Desember mendatang. (ayp)