Bom Bunuh Diri Meledak di Pangkalan Militer AS di Afghanistan

CNN Indonesia | Kamis, 12/12/2019 15:04 WIB
Bom Bunuh Diri Meledak di Pangkalan Militer AS di Afghanistan Bom bunuh diri meledak dekat pangkalan militer terbesar Amerika Serikat di Kabul, Afghanistan. Dua warga sipil dan 73 lainnya luka-luka akibat insiden itu. (STR / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bom bunuh diri meledak dekat pangkalan militer terbesar Amerika Serikat di Kabul, Afghanistan, Rabu (11/12). Dua warga sipil dan 73 lainnya luka-luka akibat insiden itu.

Serangan tersebut menargetkan rumah sakit yang sedang dibangun di dekat pangkalan militer Bagram.

Seorang juru bicara Kementerian Dalam Negeri Afghanistan, Nasrat Rahimi, mengatakan di Twitter bahwa semua pelaku tewas dalam baku tembak dengan pasukan Afghanistan.

Rahimi meyakini dua orang yang tewas merupakan warga Afghanistan, di mana salah satunya seorang wanita. "Ledakan itu merusak rumah yang berjarak 300 meter dari lokasi," kata Rahimi dikutip dari AFP.


Pejabat setempat mengatakan pelaku meledakkan diri dalam kendaraan yang diparkir di depan rumah sakit.

Pada Rabu dini hari, tujuh pria bersenjata dan mengenakan rompi bunuh diri diduga mencoba memasuki gedung rumah sakit untuk meledakkan diri.
[Gambas:Video CNN]
Juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid mengaku bertanggung jawab atas serangan itu. Dia mengklaim "puluhan" tentara AS dan Afghanistan tewas dan terluka dalam insiden itu.

Dalam pesan WhatsApp, Zabihullah Mujahid mengatakan para militan meledakkan bom dalam truk di luar pangkalan Bagram, namun dia membantah pasukan Taliban memasuki rumah sakit.

Para pejabat Afghanistan dan AS tidak dapat dikonfirmasi soal bom truk tersebut.

"Serangan itu dengan cepat dikendalikan dan dihalau tetapi fasilitas medis rusak parah," kata koalisi misi dukungan NATO untuk Afghanistan dalam sebuah pernyataan.

Mereka memastikan tidak ada korban tewas dari pihak AS maupun koalisi, akan tetapi kementerian pertahanan mengatakan lima tentara mengalami luka ringan dalam serangan itu.

Serangan ini terjadi di saat AS dan kelompok Taliban sepakat melanjutkan perundingan damai. Perundingan antara AS dan kelompok Taliban dihentikan secara sepihak oleh Trump pada September lalu. Baru-baru ini kedua pihak kembali bertemu di Doha, Qatar.

Dalam persyaratan perundingan damai, AS menyatakan hanya akan menyisakan 8.000 serdadu di Afghanistan, sebelum ditarik secara keseluruhan. Sebagai gantinya Taliban berjanji tidak akan memberi tempat persembunyian bagi kelompok teroris. (dea)