Saudi-OKI Merasa Tersaingi dengan Muslim Summit Malaysia

CNN Indonesia | Kamis, 19/12/2019 21:02 WIB
Saudi-OKI Merasa Tersaingi dengan Muslim Summit Malaysia Raja Arab Saudi, Raja Salman. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Arab Saudi dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) diduga merasa tersaingi dengan pertemuan tingkat tinggi Muslim yang dihelat di Kuala Lumpur, Malaysia. Mereka beralasan perhelatan itu justru melemahkan Islam.

Sekretaris Jenderal OKI, Yousef al-Othaimeen, mengatakan gelaran Muslim Summit tidak sejalan dengan kerangka kerja organisasinya yang selama ini menaungi pertemuan negara Muslim di dunia. Menurutnya, Muslim Summit yang digelar selama empat hari itu bisa memecah belah umat Islam.

"Bukan kepentingan negara Islam untuk mengadakan sebuah KTT dan pertemuan lainnya di luar kerangka kerja OKI, terutama pada saat ini ketika dunia menyaksikan banyak konflik, kata Othaimeen kepada Sky News Arabia seperti dilansir AFP pada Kamis (19/12).


Othaimeen juga menganggap setiap tindakan yang bertujuan melemahkan OKI sama saja bentuk pelemahan terhadap Islam dan kaum Muslim.

Meski begitu, dia tak menyebut Malaysia secara langsung dalam pernyataannya itu.

Sementara itu, Arab Saudi khawatir Muslim Summit bisa menjadi organisasi tandingan OKI.

Menurut kantor berita SPA, pertemuan tinggi gagasan Negeri Jiran itu merupakan forum yang tidak tepat untuk membicarakan masalah dan tantangan yang dihadapi 1,75 miliar umat Islam di seluruh dunia.

[Gambas:Video CNN]

Sejumlah petinggi negara seperti Presiden Iran Hassan Rouhani, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, hingga Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamid Al-Thani hadir dalam KTT selama empat hari itu.

PM Pakistan Imran Khan semula telah menyatakan akan hadir dalam KTT itu namun batal setelah diduga mendapat tekanan dari Saudi.

Malaysia juga turut mengundang Raja Salman dalam pertemuan itu tetapi sang pemimpin Saudi menolak hadir. Mengutip pejabat Saudi, SPA menuturkan pejabat Saudi menolak hadir dalam Muslim Summit lantaran pertemuan itu tidak dilangsungkan dalam kerangka OKI.

Perdana Menteri Mahathir Mohamad disebut sempat menghubungi Raja Salman via telepon terkait pertemuan itu. Dalam perbincangan, Raja Salman dikabarkan berkeras bahwa segala hal yang berkaitan dengan dunia Muslim harus diselesaikan dan dimusyawarahkan melalui OKI.

Mahathir menuturkan salah satu isu utama yang akan dibahas dalam forum itu adalah tantangan Islamofobia yang berkembang di dunia dan peningkatan kesejahteraan umat.

Masalah dugaan persekusi yang dilakukan pemerintah China terhadap etnis minoritas Muslim Uighur juga kemungkinan diangkat dalam pertemuan yang juga akan dihadiri oleh cendekiawan Muslim dan pemangku kepentingan lainnya. (rds/ayp)