Polandia Kecam Putin soal 'Kebohongan' Perang Dunia II

AFP, CNN Indonesia | Senin, 30/12/2019 17:40 WIB
Polandia Kecam Putin soal 'Kebohongan' Perang Dunia II Presiden Rusia, Vladimir Putin. (Foto: AFP Photo/Pavel Golovkin)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perdana Menteri Polandia Mateusz Morawiecki mengecam Presiden Rusia Vladimir Putin karena menyalahkan negara mereka sebagai pemicu pecahnya Perang Dunia II.

Morawiecki menuding Putin berbohong untuk mengalihkan perhatian atas kegagalan Rusia baru-baru ini.

"Presiden Putin telah berbohong tentang Polandia di banyak kesempatan dan dia selalu melakukannya dengan sengaja," kata Morawiecki melalui sebuah pernyataan pada Minggu (29/12).


"Kebohongan ini biasanya terjadi ketika pihak berwenang Rusia merasakan tekanan internasional terkait aktivitas mereka. Dalam beberapa pekan terakhir, Rusia telah mengalami beberapa kekalahan yang signifikan," ujarnya menambahkan.

Sebagai contoh, Morawiecki mengatakan bahwa Uni Eropa telah memperpanjang sanksi terhadap Rusia atas pencaplokan Crimea. Atlet Rusia juga ditangguhkan dari olimpiade selama empat tahun karena kasus doping. 

Selain itu, Morawiecki juga menuturkan Rusia gagal mengambil kendali penuh atas wilayah Belarus.

Pernyataan itu diucapkan Morawiecki demi merespons komentar Putin soal Perang Dunia II. Awal Desember lalu, Putin menyalahkan kekuatan Barat dan Polandia atas pecahnya Perang Dunia II. Hal itu merujuk ke berbagai perjanjian yang ditandatangani Barat dan Nazi Jerman sebelum perang dimulai pada 1939 lalu.

Putin juga menuduh Polandia sebagai negara anti-semit karena pernah berencana memasang patung pemimpin Nazi, Adolf Hitler, di Warsawa. Kremlin juga menuduh Polandia pernah berjanji untuk mengirim orang Yahudi di negaranya ke Afrika.

"Saya menganggap kata-kata Presiden Putin itu sebagai upaya untuk menutupi masalah [Rusia] ini. Pemimpin Rusia sangat menyadari bahwa tuduhannya tidak ada hubungannya dengan kenyataan dan bahwa di Polandia tidak ada monumen Hitler atau Stalin," kata Morawiecki.

"Monumen semacam itu berdiri di sini hanya ketika mereka didirikan oleh para penyerang dan pelaku, Nazi Jerman dan Uni Soviet," ujarnya menambahkan seperti dikutip AFP. (rds/evn)