PM Irak Minta AS Susun Mekanisme Tarik Pasukan

AP, CNN Indonesia | Jumat, 10/01/2020 20:10 WIB
PM Irak Minta AS Susun Mekanisme Tarik Pasukan Ilustrasi. PM Irak meminta AS susun mekanisme menarik pasukan. (Foto: morgueFile/taliesin)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perdana Menteri Irak, Adel Abdul Mahdi melakukan pembicaraan lewat telepon dengan Menteri Luar Negeri Mike Pompeo untuk membahas mekanisme penarikan pasukan AS.

Permintaan tersebut dilakukan setelah rudal Iran menghantam basis militer dan kantor kedubes AS di Irak selama dua hari berturut-turut pada Selasa (7/1) dan Rabu (8/1).

Komentar yang ditujukan kepada Pompeo menunjukkan bahwa Irak mendukung pernyataan bahwa pasukan AS harus meninggalkan Irak. Kendati sinyal-sinyal de-eskalasi antara Teheran dan Washington muncul setelah Donald Trump menegaskan tidak mengerahkan kekuatan militer.


Pernyataan yang dirilis Kantor Kementerian Luar Negeri AS menyatakan jika pemimpin Irak meminta mereka untuk mengirim delegasi untuk menyiapkan mekanisme penarikan pasukan asing di Baghdad.

"Perdana Menteri [Abdul Mahdi] mengatakan pasukan Amerika telah memasuki Irak dan drone terbang di wilayah udaranya tanpa izin dari pemerintah dan ini merupakan pelanggaran terhadap perjanjian bilateral," tulis pernyataan tersebut seperti dilansir Associated Press.

[Gambas:Video CNN]

Abdul Mahdi mengatakan Irak menolak segala pelanggaran terhadap kedaulatan negaranya, termasuk rentetan rudal balistik yang ditembakkan pasukan Iran terhadap basis pasukan AS. Irak mengatakan hal itu sebagai pelanggaran AS terhadap wilayah udara Teheran.

Di sisi lain, petinggi militer AS termasuk ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Mark Milley dan Menteri Pertahanan Mark Esper mengatakan tidak ada rencana bagi AS untuk menarik diri dari Irak.

Anggota parlemen Irak berencana mengeluarkan resolusi tidak mengikat untuk menggulingkan pasukan AS setelah serangan yang menewaskan pimpinan Pasukan Quds, Qasem Soleimani dan tiga petinggi Iran lainnya.

Sebelumnya Iran sempat melancarkan serangan dalam dua hari berturut-turut ke markas militer dan kantor kedubes Amerika Serikat di Irak. AS mengatakan tidak ada tentara yang tewas dalam serangan tersebut.

Aksi tersebut merupakan balasan atas serangan pesawat nirawak AS yang menewaskan pemimpin Pasukan Quds, Qasem Soleimani.

Presiden AS Donald Trump dalam pidatonya menyampaikan tidak akan mengerahkan kekuatan militer untuk membalas serangan yang diterima para tentaranya di Irak.

Kendati demikian, Trump justru menjatuhi sanksi ekonomi lebih berat atas serangan yang dilakukan Iran. (evn/evn)