Permintaan tersebut dilakukan setelah rudal Iran menghantam basis militer dan kantor kedubes AS di Irak selama dua hari berturut-turut pada Selasa (7/1) dan Rabu (8/1).
Komentar yang ditujukan kepada Pompeo menunjukkan bahwa Irak mendukung pernyataan bahwa pasukan AS harus meninggalkan Irak. Kendati sinyal-sinyal de-eskalasi antara Teheran dan Washington muncul setelah Donald Trump menegaskan tidak mengerahkan kekuatan militer.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Perdana Menteri [Abdul Mahdi] mengatakan pasukan Amerika telah memasuki Irak dan drone terbang di wilayah udaranya tanpa izin dari pemerintah dan ini merupakan pelanggaran terhadap perjanjian bilateral," tulis pernyataan tersebut seperti dilansir Associated Press.
[Gambas:Video CNN]
Abdul Mahdi mengatakan Irak menolak segala pelanggaran terhadap kedaulatan negaranya, termasuk rentetan rudal balistik yang ditembakkan pasukan Iran terhadap basis pasukan AS. Irak mengatakan hal itu sebagai pelanggaran AS terhadap wilayah udara Teheran.
Di sisi lain, petinggi militer AS termasuk ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Mark Milley dan Menteri Pertahanan Mark Esper mengatakan tidak ada rencana bagi AS untuk menarik diri dari Irak.
Anggota parlemen Irak berencana mengeluarkan resolusi tidak mengikat untuk menggulingkan pasukan AS setelah serangan yang menewaskan pimpinan Pasukan Quds, Qasem Soleimani dan tiga petinggi Iran lainnya.
Aksi tersebut merupakan balasan atas serangan pesawat nirawak AS yang menewaskan pemimpin Pasukan Quds, Qasem Soleimani.
Presiden AS Donald Trump dalam pidatonya menyampaikan tidak akan mengerahkan kekuatan militer untuk membalas serangan yang diterima para tentaranya di Irak.
Kendati demikian, Trump justru menjatuhi sanksi ekonomi lebih berat atas serangan yang dilakukan Iran. (evn)